Dari berkebun ke usaha mandiri, perubahan ekonomi dirasakan warga Kawasi dan Soligi
![]() |
| Madina Jouronga, pemilik Kapal Motor Akelamo Jaya, yang dibeli dari hasil penjualan lahan dan kini menjadi sumber penghasilannya. |
Dari hasil menjual lahan, Madina mengubah arah hidupnya dari berkebun menjadi pelaku usaha transportasi laut. Bersama anaknya, ia kini mengelola speed boat yang menjadi sumber penghasilan utama. Dalam sekali perjalanan, ia mengaku meraup keuntungan bersih sekitar Rp10 juta, dengan pendapatan bulanan mencapai Rp40 juta. “Speedboat ini saya beli dari hasil jual lahan di Akelamo. Saya kasih nama itu supaya ingat asalnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, keputusan menjual lahan dilakukan tanpa paksaan. “Perusahaan tidak memaksa. Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,” katanya.
Perubahan serupa dialami Nur Eneng Rahmat (33), warga Kawasi lainnya. Di permukiman baru, ia mengembangkan usaha rumah kos sebagai sumber penghasilan. Dalam kurun 2022 hingga 2024, ia beberapa kali menjual lahannya melalui proses yang disebutnya terbuka dan transparan.
“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ungkapnya.
Dari hasil penjualan lahan, Nur Eneng membangun rumah, membeli kendaraan, serta mengembangkan usaha kos. Saat ini, ia memiliki 10 kamar aktif dengan tarif Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan, dan tengah menyiapkan pengembangan hingga 30 kamar.“Di sini nilainya lebih tinggi. Menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,” ujarnya.
Pengalaman warga Kawasi itu kerap berseberangan dengan narasi yang menyebut pembebasan lahan oleh perusahaan tambang tidak transparan. Namun bagi sebagian warga, proses tersebut justru dipahami sejak awal sebagai kesepakatan yang saling menguntungkan.
Pandangan serupa disampaikan warga Desa Soligi. Siti Aminah (52) mengaku menjual lahannya untuk pembangunan bandara tanpa tekanan.
“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi ini terjadi karena kesepakatan,” katanya. Meski sempat ragu melepas kebun, ia melihat pembangunan bandara sebagai peluang. Hasil penjualan lahan dimanfaatkan untuk membangun rumah dan membuka kios.
Hal yang sama disampaikan Ade Ahmad (50). Ia menggunakan hasil penjualan lahan untuk membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, serta menabung untuk masa depan anak.“Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” ujarnya.
Menurut Ade, kehadiran bandara memberi harapan baru bagi masyarakat. “Dengan adanya bandara, kami yakin kehidupan masyarakat bisa lebih baik,” katanya.
Sementara itu, pihak perusahaan melalui Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menegaskan bahwa proses pembebasan lahan dilakukan secara transparan dan berdasarkan kesepakatan bersama.“Pembebasan lahan dilakukan secara transparan dan tanpa paksaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat diberikan pemahaman sejak awal terkait proses, nilai, dan mekanisme yang digunakan. “Prinsip kami, proses harus adil, terbuka, dan dapat diterima semua pihak,” katanya.
Bagi warga Kawasi dan Soligi, pembebasan lahan bukan sekadar transaksi. Proses tersebut menjadi titik awal perubahan kehidupan dari mengandalkan kebun ke usaha baru, dari ruang lama menuju peluang yang lebih luas.
Di laut, Akelamo Jaya terus berlayar. Di darat, kamar-kamar kos mulai terisi. Di antara keduanya, tersimpan kisah tentang pilihan, kesepakatan, dan masa depan yang tengah dibangun. (*)
