“Dengan alat seadanya, pasangan suami istri asal Bacan Selatan bertahan hidup dari gula aren demi masa depan anak-anaknya.”
![]() |
| Senyum Arifin Samat (55), warga Desa Kampung Makian, Kecamatan Bacan Selatan, sedang mengaduk cairan nira yang dimasak menjadi gula. (Idham/LugoPost.id). |
Bertahun-tahun mereka menggantungkan hidup dari mengolah pohon aren menjadi gula merah di Desa Marabose. Dari hasil kerja keras itulah, pasangan suami istri ini berhasil menyekolahkan lima anaknya, bahkan satu di antaranya kini telah lolos menjadi tenaga PPPK sebagai seorang bidan.
Setiap dua hari sekali, Arifin dan istrinya mengolah nira dari belasan pohon aren.“Sekali masak biasa dapat sekitar 129 sampai 132 buah gula aren, tergantung cuaca dan hasil sadapan,” ujarnya.
Sebelumnya harga gula aren hanya Rp3.000 per buah, kini naik menjadi sekitar Rp9.000 namun semua itu tetap dijalani dengan penuh syukur.
![]() |
| Suasana pembuatan gula aren di pondok milik Arifin Samat di Desa Marabose, Kecamatan Bacan Selatan, bersama istri dan anak ketiga dari lima bersaudara, (Foto: Idham/LugoPost.id |
“Saya berharap ada sedikit perhatian dari pemerintah, terutama peralatan masak, panci, dan pondok. Supaya kami bisa kerja lebih mudah,” katanya lirih.
Kisah Arifin dan Wa Eni adalah cermin keteguhan rakyat kecil yang berjuang di tengah keterbatasan. Dari tetes nira yang manis, mereka menyalakan harapan dan membuktikan bahwa kerja keras dan doa mampu mengubah nasib keluarga.
Editor | Idham Hasan.


