Ternate, 1 Juni 2025 – Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Santripreneur Nusantara (Geninusa) Provinsi Maluku Utara, Sugi Altin, menilai bahwa capaian 100 hari pemerintahan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe merupakan contoh konkret bagaimana kehadiran negara dirasakan langsung oleh rakyat, dari pelosok hingga jenjang global.
Menurutnya, langkah-langkah progresif yang diambil oleh Sherly-Sarbin tidak hanya menjawab kebutuhan dasar rakyat seperti kesehatan dan pendidikan, tapi juga membuka harapan baru bagi generasi muda dan pelaku ekonomi kecil-menengah.
“Bagi kami, ini bukan sekadar capaian administratif. Ini adalah bukti bahwa kepemimpinan itu bisa punya nyali dan nurani. Dari pencabutan pungutan komite hingga beasiswa internasional, semuanya menunjukkan negara hadir—bukan hanya di kantor, tapi di ruang harapan rakyat,” ujar Sugi Altin.
Sugi memuji kebijakan UHC Prioritas yang memungkinkan masyarakat cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk berobat di seluruh rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, langkah ini sangat membantu rakyat kecil dan santri-santri dari pelosok yang sering kesulitan akses layanan kesehatan berkualitas.
“Hari ini, santri di Taliabu atau nelayan di Maba tak perlu lagi khawatir kalau anaknya sakit dan harus dirujuk ke kota besar. Cukup NIK. Ini luar biasa,” katanya.
Sugi Altin secara khusus mengapresiasi perhatian besar Gubernur Sherly di sektor pendidikan. Mulai dari penghapusan iuran komite sekolah, distribusi ijazah yang sempat tertahan, hingga alokasi BOSDA untuk sekolah negeri, swasta, dan madrasah.
“Ini menyentuh langsung kami para pelaku pendidikan komunitas. Karena pendidikan itu bukan beban, tapi investasi bangsa. Dan negara harus berdiri paling depan ketika anak-anak nyaris putus sekolah,” tegasnya.
Ia juga menyambut baik rencana peluncuran Sekolah Rakyat sebagai bagian dari pendidikan inklusif, yang menurutnya sejalan dengan semangat pesantren: mendidik siapa pun tanpa diskriminasi.
Program Beasiswa Maluku Utara Bangkit juga disambut hangat oleh Sugi. Ia menyebut bahwa akses ke 53 negara dan universitas terbaik dunia adalah terobosan besar bagi anak-anak muda di Maluku Utara.
“Ketika santri, anak petani, atau nelayan dari Malut bisa belajar di kampus top dunia karena dukungan pemprov dan LPDP—di situ kita melihat peradaban sedang dibangun. Ini bukan mimpi lagi,” ucapnya.
Sugi juga menyoroti kebijakan ekonomi kerakyatan yang digaungkan Sherly-Sarbin, terutama subsidi mudik, bantuan untuk nelayan, pembangunan rumah layak huni, dan bursa kerja.
Menurutnya, ini membuka ruang baru untuk mengintegrasikan program pemberdayaan ekonomi umat, termasuk Santripreneur, dalam pembangunan daerah.
“Kami di Geninusa siap bersinergi. Santri bukan hanya bisa mengaji, tapi juga berbisnis, mengelola tambak, rumput laut, bahkan masuk rantai pasok industri halal. Ini saatnya negara dan pesantren jalan bersama,” jelasnya.
Menutup komentarnya, Sugi Altin menegaskan bahwa apa yang dilakukan Sherly–Sarbin dalam 100 hari pertama ini bukan sekadar simbolik, melainkan nyala obor perubahan yang harus dijaga.
“Obor ini sudah menyala. Tinggal dijaga agar tidak padam. Geninusa akan berdiri bersama rakyat dan pemerintah untuk memastikan perubahan ini terus tumbuh—terutama untuk generasi muda Maluku Utara yang ingin membangun, bukan sekadar menonton,” tutupnya.
