REFLEKSI GEOPOLITIK DAN KRONOPOLITIK: Dalam membaca Dinamika Tahun Politik 2024

Editor: Admin

(Oleh: Berly Marten, S.S)

___Aktivis___

Untuk memulai tulisan sebagai refleksi politik yang memanas ini, fokus perhatian saya adalah "geopolitik" dan "kronopolik" kalau boleh dibilang sebagai term yang punya pengaruh untuk bisa diperdebatkan. Maka hal semacam ini, menarik perhatian dan fokus kita bersama. Karenanya, nomadisme menjadi dasar dan nalar penting dalam bingkai politik. 

Nomadisme politik disini adalah kecenderungan politik ruang ketimbang politik waktu. Paul Virilio di dalam Lost Dimension membedakan antara prinsip geopolitik dan kronopolik, yaitu antara politik pergantian ruang dan politik merebut waktu; yang satu adalah pergerakan orang di dalam ruang, wilayah, atau teritorial (politik), yang lain adalah pergerakan dalam waktu (perkembangan, kemajuan, transformasi); yang satu bersifat sinkronis, yang lain bersifat diakronik. Nomadisme politik adalah politik memperebutkan ruang (kapling, kursi, wilayah), yaitu perebutan horizontal teritorial politik secara terus-menerus; sementara politik waktu adalah politik kemajuan, perkembangan, atau transformasi secara vertikal dari satu keadaan ke keadaan berikutnya secara historis, yang di dalamnya berlangsung akumulasi pengetahuan, kemajuan, keterampilan, dan modal politik. Politik ruang dan politik waktu semestinya berjalan secara mutual dan saling mengisi di dalam sebuah ruang politik yang sehat, agar penjelasan politik mampu menciptakan perubahan, perkembangan, kemajuan, dan transformasi politik yang cerdas. 

Akan tetapi, Virilio mengemukakan lebih lanjut, bahwa di dalam dunia yang dikuasai oleh kecepatan dewasa ini peran geopolitik telah diambil alih oleh kronopolik. Di dalamnya, kronopolik, kecepatan, percepatan, dan tempo kehidupan yang semakin cepat, telah mengharuskan setiap orang untuk hidup atau bertahan hidup di dalam mesin dunia yang berlari kencang--- dromology machine. Di dalam dunia yang berlari itu, waktu dan kecepatan menjadi energi utama untuk menggerakkan mesin kemajuan atau perubahan. Barang siapa yang menguasai waktu, ia akan menguasai dunia. Singapore --- yang sangat kecil secara geopolitik --- dapat menjadi rakyat ekonomi disebabkan kemampuannya mengembangkan kronopolik yang ampuh lewat manajemen perubahan dan kemajuan yang terorganisasi. 

Sebaliknya siapa yang tidak mampu mengendalikan waktu dan mengembangkan politik perubahan, akan menjadi korban saja dari dunia yang berlari tersebut. Ketidakmampuan untuk hidup di dalam bahasa-bahasa perubahan, pergerakan, peralihan kemajuan, transformasi, mutasi; yang didukung oleh mentalitas, gaya hidup, etos kerja, tingkah laku, cara berpikir, dan cara bertindak yang serba cepat, akan menyebabkan mereka terlindas oleh deru mesin waktu dan perubahan tersebut. Dalam hal ini, ada beberapa pilihan kronopolitik.

Pertama, politik waktu tradisional, yang bersifat statis, esensial, dan mengidentitas, yang mempertahankan nilai-nilai lokal, tradisi, adat, dan agama tanpa harus terusik oleh perangkap waktu yang telah diciptakan oleh mesin dromologi global (informasi, ekonomi, sosial, dan kultur). Yang diutamakan adalah bagaimana identitas lokal terpelihara dan hidup damai di dalamnya. Waktu adalah untuk sosial (chorono-ethico politics) atau untuk Tuhan (chorono-theo-politics). 

Kedua, politik waktu modern, yang bersifat linear progresif sewaktu (timely), yang menolak segala bentuk campur tangan adat, tradisi, mitos, tuhan dalam perkembangan peradaban manusia, yang di dalam versi kapitalismenya berdiri di atas prinsip time is money, tanpa peduli dengan segala bentuk pelestarian nilai tradisi, adat agama, dan kearifan-kearifan lokal. Waktu adalah semata untuk keuntungan (chrono-econo-politics).

Ketiga, politik waktu posmodern, yang bersifat tak-mewaktu (untimely), yaitu berbaurnya waktu-waktu masa lampau dan masa kinidi dalam sebuah relasi eklektik, yang didalamnya bertumpang tindih secara kontradiktif berbagai nilai agama, adat, nasionalitas, hedonisme, konsumerisme, bisnis, hiburan, uang, dan kesenangan. Yang diutamakan adalah dinamika dan permainan. Waktu adalah untuk kesenangan puncak (chrono-libido-politics).

Berdasarkan fenomena politik kekinian, semua bercampur adukan kepentingan para politikus yang berpikir perampasan ruang dan waktu dalam politik kelompok dan menyibukkan diri dengan energi untuk "hasrat prestise", gaya hidup, status dan kuasa kekuasaan politik hingga lupa konstituen politik. Pada akhirnya tidak mampu merubah wajah politik, mentalitas dan mindset politik untuk menguntungkan pribadi.[ 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com