Oleh
Berly Marten, S.S
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan-- Soe Hok Gie
Everything has beauty but not everyone sees it. (Segala sesuatu itu indah namun tak semua orang dapat melihatnya). Konfusius filsuf Tiongkok. Ungkapan ini jika di kaitkan dalam konteks propaganda, maka ia memiliki dimensi yang bertingkat keindahan namun sesungguhnya ada hitam pekat yang ada di dalamnya. Sejatinya propaganda tidak bekerja dengan privatisasi dan kerahasiaan. Tetapi sebaliknya, ia mengedepankan pembocoran informasi karena sasarannya adalah kepada publik. Propaganda selalu mengacu kepada prinsip umum; “Biarkan semua dibaca, diinterpretasi, dikalkulasi”. Terlepas dari tujuan informatif, propaganda dimaksudkan untuk meraih semacam dukungan moril. Dalam dunia politik misalnya, taktik kotor bisa disebarkan dengan membocorkan informasi bahwa lawan politik anda bercinta dengan banyak gadis di kantornya, atau anda harus mengikuti arus karena ini perintah meskipun terkesan kotor dalam permainan politik, dll.
Taktik kotor bukanlah cara yang mempesona, tapi bila berhasil, maka keuntungannya sangat besar. Propaganda tidak selalu berjalan satu arah. Ia selalu dilancarkan melalui percabangan praktik karena memberi banyak keuntungan sekaligus dominasi politis. Kita bisa lihat momentum tahun politik 2024 ini, bahwa propaganda dijadikan sebagai adigum yang akan mengabaikan unsur dan hakekat demokrasi seutuhnya dan dalil-dalil untuk menyampingkan nilai demokrasi itu.
Propaganda semacam ini dapat memastikan suksesnya suatu kebohongan melalui spionase, tidak selalu glamor. Spionase pada kenyataannya hanyalah polarisasi dan alur-alur dari setiap cerita meskipun faktanya ngawur. Spionase seringkali melanggar aturan yang dipatuhi oleh yang menjalankannya. Siapa saja yang terlibat dalam diplomasi dan aksi-aksi propagandis selalu dapat memastikan jika spionase berjalan terus. Sadar ataupun tidak, banyak spionase yang berkeliaran sana sini sebelum jalannya tahapan "PEMILU Tahun 2024" ini, dengan sengaja mendeteksi bahan informasi kepada pihak tertentu dan terlebih khusus kepada yang berkepentingan.
Baik korban maupun praktisi spionase dan propagandis tidak akan banyak membicarakan kebejatan aksi-aksi mereka. Akan menjadi sangat memalukan dan tidak baik untuk bisnis serta kesuksesan politik jika mereka mengakui ke publik bahwa mereka telah mencuri rahasia dan membuat kegaduhan privasi. Spionase dalam konteks ini dilakukan secara diam-diam untuk melindungi sumber dan metode. Tentu spionase yang dilakukan secara diam-diam melibatkan perilaku buruk dan ilegal (menggunakan identitas palsu, menyuap, mengintimidasi, menyusup masuk dalam gedung, menyadap telepon, atau memasang kamera pengintai untuk mengambil beberapa gambar dengan mengabaikan privasi).
Propagandis pada prinsipnya adalah seorang yang ahli berdusta. Dusta adalah sama pentingnya dengan kerahasiaan. Respon ingstintif pejabat intelejensi ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan keras di hadapan publik adalah mengelak, menyesatkan, dan jika perlu, menipu. Jika menyatakan secara terang-terangan apa yang sedang dilakukan atau tidak dilakukan resikonya adalah sama dengan memberikan petunjuk berharga kepada lawan politik.
Unsur lain dalam menjalankan spionase dan propaganda adalah kenekatan. Hak untuk melanggar hukum itu bisa memabukkan. Hadiah yang diperoleh sangat besar, disamping risiko marginalnya kecil. Pejabat intelijensi itu ambisius. Barangkali karena pejabat ini memiliki keanehan psikologis yang menjadikan mereka spionase dan propagandis terbaik, tapi keanehan itu sekaligus menjelaskan bahwa pejabat-pejabat ini sulit diatur.
Suatu badan intelijensi yang dijalankan dengan baik memiliki banyak pengatur dan penyeimbang yang memastikan agar target, sumber dan metode yang digunakan dipilih dengan benar. Prioritasnya harus berasal dari politisinya, bukan dari antusiasme pribadi staf. Cara yang digunakan harus proporsional. Dalam operasi, hukum harus dipatuhi, seperti dalam mendapatkan surat perintah untuk penggeledahan dan penyadapan/sabotase. Di samping itu, operasi intelejensi harus selalu membandingkan risiko dan ketidakpastian.
Pertimbangan semacam ini sudah lama menjadi ciri khas intelijensi manusia.
Jenis kegiatan memata-matai merupakan pencarian informasi rahasia dengan cara mengeksploitasi kelemahan diri manusia yang memiliki akses terhadap informasi rahasia. Dengan uang, pemerasan, dan puji-pujian. Cara-cara seperti ini hampir jarang lagi digunakan dalam dunia intelijensi elektronik. Memasang antena, merekam sinyal dan mengontrol robotik dari jarak jauh, kemudian memerintah pembobol kode memecahkannya merupakan kegiatan yang rendah. Rahasia kriptografi dan titik-titik pengumpulan informasi fisik sangat mungkin terjaga ketat, tetapi hal semacam ini adalah berbeda dari rahasia kriptografi dan titik-titik pengumpulan informasi yang ada dalam merekrut, menempatkan seorang agen di jantung daerah kekuasaan musuh.
Bila kita perhatikan, saat ini perkembangan negara-negara di dunia seperti sebuah kamp, dimana hukum ditangguhkan dan penduduk dikurangi. Dapat kita lihat dari siaran pers tentang kebijakan pemerintah yang relatif dinamis, yakni sebagai kebijakan yang ditangguhkan. Target operasi dari propaganda semacam ini adalah memungkinkan semua orang terlibat pada situasi ‘bellum omnium contra omnes’, yakni kondisi perang antara semua melawan semua, sehingga setiap orang akan selalu berupaya mengimunisasi (antibodi/keamanan) diri sendiri.
Halmahera Selatan (bumi SARUMA) adalah daerah yang begitu kita cintai dan banggakan. Karena itu, perampasan hak dalam demokrasi tidak harus terjadi melalui unsur kekerasan HAM yang dilakukan dengan segala cara untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dalam menjemput pemilu 2024 ini.
Jika terjadi perampasan HAM, maga tidak salah banyak pihak akan menilai bahwa propaganda semacam ini merepresentasikan bentuk asli dari kedaulatan. Bahwa prinsip dasar propaganda semacam ini adalah komunitas politik yang didasari oleh kemungkinan untuk mengurangi nilai politik sepenuhnya menjadi situasi ketidakpercayaan publik, karena mencabik-cabik martabat rakyat dan kehidupan sosial politik. Strategi untuk mengubahnya menjadi ‘the other thing’ atau sebagai kehidupan yang lain dan mengatasnamakan kepentingan rakyat dimana keaslian (murni) dan sogokan perjanjian.
Keadaan pengecualian semacam ini sebetulnya adalah perintah mengadili yang paling ekstrem dari sekadar penangguhan aturan. Keadaan pengecualian adalah kemampuan kedaulatan untuk memasukkan pengecualian ke dalam tatanan peradilan dan menjadikannya tampak sebagai yang normal dan alamiah, yakni sebagai “hukum negara yang sebenarnya”. Akibatnya, keadaan pengecualian dapat dipahami sebagai keadaan darurat. Apakah situasi ini di diamkan dan berakhir dengan begitu saja. Tentu tidak, tidak dan tidak. Tegakkan keadilan demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama rakyat. *)
