Ada Apa dengan Mahasiswa? Buku Ditinggalkan, TikTok Jadi Pilihan

Editor: Admin

Presiden DEMA IAIN Ternate, Kadir Ikram, menyoroti menurunnya budayaw membaca di kalangan mahasiswa dan mengingatkan bahaya hilangnya tradisi berpikir kritis di kampus.

Presiden DEMA IAIN Ternate, Kadir Ikram, menyampaikan materi di hadapan ratusan calon mahasiswa baru saat kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Ternate 2026. Dalam kesempatan itu, Kadir menyoroti menurunnya budaya membaca di kalangan mahasiswa yang mulai tergeser oleh kebiasaan menggulir konten media sosial. (Foto: Istimewa)

TERNATE, LUGOPOST - Rak buku di kampus masih berdiri. Perpustakaan tetap terbuka. Namun, minat membaca mahasiswa dinilai mulai kalah dengan kebiasaan menggulir konten di media sosialz.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Kadir Ikram.

Menurut mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah IAIN Ternate itu, perubahan kebiasaan mahasiswa dalam memperoleh informasi menjadi tantangan serius bagi dunia akademik.

Kegelisahan tersebut disampaikan Kadir saat kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Ternate Tahun 2026 di Auditorium IAIN Ternate.

Kegiatan itu dibuka Rektor IAIN Ternate, Dr. Adnan Mahmud, dan diikuti 503 calon mahasiswa baru.

“Buku-buku di rak perpustakaan semakin sepi disentuh, sementara layar ponsel nyaris tak pernah lepas dari genggaman. Scroll TikTok telah menggantikan lembar demi lembar buku sebagai aktivitas utama mengisi waktu luang,” ujar Kadir dalam keterangan persnya, Rabu (26/08/2026).

Menurut Kadir, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan, baik internal maupun eksternal kampus, juga memiliki peran penting dalam membangun kembali budaya membaca dan diskusi.

Ia menyebut DEMA, BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII dan IMM harus menjadikan literasi sebagai bagian dari proses kaderisasi.

“Ketika organisasi kemahasiswaan gagal menanamkan tradisi literasi, maka wajar jika generasi yang dihasilkan pun jauh dari budaya baca,” katanya.

Kadir menilai organisasi mahasiswa tidak seharusnya hanya fokus pada kegiatan seremonial dan program kerja. Organisasi juga harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membaca, berdiskusi, menguji gagasan dan membangun kemampuan berpikir kritis.

Meski demikian, ia menegaskan teknologi dan media sosial bukan musuh.

Menurutnya, dunia digital justru dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali minat baca melalui konten ringkasan buku, ulasan, kutipan reflektif dan diskusi.

Sebagai langkah konkret, Kadir menggagas gerakan “Iqra Kampus”. Gerakan tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali budaya literasi melalui kegiatan membaca bersama, bedah buku dan diskusi.

Ia juga mendorong kolaborasi antara organisasi internal dan ekstra kampus agar gerakan literasi tidak hanya berhenti sebagai slogan.

Bagi Kadir, persoalan literasi bukan sekadar tentang perpustakaan yang sepi. Jika budaya membaca terus ditinggalkan, mahasiswa dikhawatirkan kehilangan kemampuan memahami persoalan, membangun argumentasi dan melahirkan gagasan.

“Jangan sampai kampus kehilangan generasi pemikir,”pesannya. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com