Oleh: Imran Guricci
Saya sedang akan memukul bola 7 sambil memikirkan posisi (parking) bola putih yang ideal untuk memasukkan bola 8 sebelum memenangkan permainan ini, ketika sebuah pesan singkat dari istri masuk di layar ponsel saya:
“Kaka bisa ke Hotel Fairmont (Jakarta) sekarang biar berkenalan dengan Pak Fadel Muhammad.”
Sejurus kemudian, saya dan teman sudah berada di mobil menuju lokasi yang berjarak sekitar 23 menit dari Sarinah.
“Ini suami saya, Pak Fadel,” istri memperkenalkan.
“Imran, Pak. Dari Ternate,” saya menjabat tangan beliau yang telah banyak mengukir prestasi di dunia politik (gubernur, menteri, hingga anggota DPR-RI) serta dunia bisnis yang luas dan berkembang.
“Ayo duduk di sini,” beliau sedikit menarik tangan saya ke kursi yang masih kosong. Di sana sudah duduk para pengusaha wanita (IWAPI) dari beberapa provinsi, yang sedang berbincang seputar bisnis, ditemani alunan musik lawas yang pelan, menambah kehangatan suasana jamuan makan malam itu.
“Saya lulus dari SMA 1 Ternate, lalu kuliah di ITB…” beliau mulai bercerita.
“PT Bukaka adalah perusahaan pertama yang saya bangun bersama adiknya Yusuf Kalla. Sekarang saya bersama Pak Hashim membangun IRA (Internet Rakyat).”
“Kalau kita baik, banyak yang mau berteman dengan kita. Nanti kalau mereka punya peluang bisnis, kita bisa diajak,” kata sang mentor kepada saya.
Benar-benar beruntung saya malam itu.
Namun ternyata keberuntungan saya tidak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya, Gubernur Gorontalo dua periode itu menjemput kami di hotel, lalu membawa berkeliling ke salah satu unit bisnisnya, FOLAGO di BSD, untuk melihat peluang di dunia digital. Saya juga diberikan dua buku di sana.
“Ini buku perjalanan saya membangun bisnis. Imran bisa belajar.”
Waooo… saya benar-benar beruntung.
Hari berikutnya, kami diperkenalkan dengan rekan-rekan bisnisnya yang bukan lagi miliarder, tetapi triliuner. Salah satunya adalah pemilik Hotel Ritz-Carlton Jakarta. What a lucky day. Saya terkagum-kagum. Sungguh beruntung bisa menyerap energi mereka.
Begitulah keberuntungan bekerja. Ia datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Min haitsu la yahtasib, kata Allah. Sulit kita nalar.
Tapi tunggu dulu. Seorang profesor Inggris, Richard Wiseman, mampu mengurai keajaiban keberuntungan ini menjadi sesuatu yang bisa diusahakan oleh siapa saja. Dalam bukunya The Luck Factor, Wiseman membagi 12 faktor yang dapat membuat seseorang lebih beruntung. Yang paling utama adalah membangun dan mempertahankan jaringan pertemanan.
Sebab pertemanan yang baik akan mengantarkan kita pada peluang-peluang keberuntungan berikutnya.
Seperti permainan biliar, para miliarder bahkan triliuner yang saya temui selama tiga hari ini mampu merawat relasi mereka dengan sangat baik, sehingga selalu memiliki peluang ideal untuk memukul bola keberuntungan berikutnya. Bagi para miliarder, satu peluang (bola biliar) menjadi kunci bagi peluang bisnis berikutnya.
“Imran pasti akan tumbuh. Awalnya pelan, lalu nanti akan menanjak tinggi,” pesan Bang Fadel sebelum kami berpisah di Menara Millennium Centennial Center siang itu.
Mau jadi miliarder?
Belajarlah memainkan bola biliar!. (*)
