![]() |
Oleh : Imran Guricci
Pengusaha Muda Maluku Utara
Temuan ilmuwan Belanda, Niko Tinbergen, pada tahun 1940-an tentang perilaku anak burung Camar Herring menarik untuk dijadikan bahan refleksi dalam melihat dinamika organisasi saat ini.
Anak-anak burung Camar Herring yang baru menetas memiliki kebiasaan mematuk titik merah yang terdapat pada paruh induknya. Bagi mereka, titik merah itu adalah isyarat makanan. Insting alami mendorong mereka untuk terus mematuk karena menganggap di situlah sumber kehidupan berada.
Namun, Tinbergen kemudian melakukan sebuah eksperimen. Ia membuat paruh tiruan yang menyerupai paruh induk camar, tetapi dengan titik merah yang jauh lebih besar dan lebih mencolok. Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak camar justru lebih tertarik mematuk paruh palsu dibandingkan paruh induknya sendiri.
Dari penelitian itu lahir sebuah pemahaman penting bahwa makhluk hidup, termasuk manusia, sering kali lebih tertarik pada sesuatu yang tampak lebih besar, lebih mencolok, dan lebih menggoda daripada realitas yang sebenarnya. Dalam dunia ilmu perilaku, fenomena ini dikenal sebagai supernormal stimuli.
Supernormal stimuli adalah kondisi ketika seseorang lebih mudah terpengaruh oleh sesuatu yang dibesar-besarkan daripada kenyataan yang sesungguhnya. Ia mampu mengubah perilaku, memengaruhi pilihan, bahkan menggiring cara berpikir seseorang.
Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi pada burung camar. Dalam kehidupan manusia, terutama dalam dunia politik, bisnis, dan organisasi, supernormal stimuli sering hadir dalam bentuk narasi, janji, pencitraan, hingga isu-isu yang sengaja diperbesar untuk menarik perhatian.
Di titik inilah saya melihat ada relevansinya dengan dinamika yang sedang terjadi di HIPMI Maluku Utara.
Sebagai organisasi pengusaha yang telah cukup matang, HIPMI Malut sejatinya memiliki fondasi yang kuat. Namun, kegagalan dua kali pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) dalam beberapa waktu terakhir tentu meninggalkan catatan tersendiri. Kematangan organisasi diuji ketika agenda-agenda penting tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kini, Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) kembali akan digelar. Namun sebelum forum itu dimulai, berbagai isu telah beredar. Ada isu pembatalan, ada penolakan, ada pula berbagai narasi yang saling bertabrakan di ruang publik.
Apakah Musdalub kali ini akan berhasil atau kembali menemui hambatan? Waktu yang akan menjawab.
Yang menarik bagi saya bukan sekadar soal berhasil atau gagal. Yang menarik adalah bagaimana berbagai narasi yang beredar mulai membentuk perilaku dan persepsi anggota organisasi. Seolah-olah ada "paruh-paruh palsu" yang sedang dipertontonkan dengan titik merah yang dibuat lebih besar agar tampak lebih menarik daripada kenyataan yang ada.
Ada banyak "Nicolas-Nicolas" baru yang mencoba menghadirkan realitas versi mereka sendiri. Narasi dibangun, isu diperbesar, persepsi dibentuk. Tujuannya sederhana: menarik perhatian sebanyak mungkin orang agar berbondong-bondong mematuk titik merah yang dianggap paling menjanjikan.
Padahal, belum tentu titik merah itu adalah makanan. Belum tentu pula narasi yang paling keras adalah kebenaran yang paling dekat.
Dalam situasi seperti ini, anggota HIPMI Malut dituntut untuk tidak sekadar menjadi anak-anak camar yang bereaksi terhadap apa yang paling mencolok. Organisasi membutuhkan anggota yang mampu membedakan antara substansi dan sensasi, antara fakta dan persepsi, antara kebutuhan organisasi dan kepentingan kelompok tertentu.
Karena pada akhirnya, organisasi yang sehat tidak dibangun oleh mereka yang paling pandai menciptakan titik merah terbesar. Organisasi yang sehat dibangun oleh mereka yang mampu menjaga akal sehat, menghormati mekanisme organisasi, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.
HIPMI Malut tentu membutuhkan energi, gagasan, dan kompetisi yang sehat. Tetapi organisasi ini tidak boleh terseret menjadi arena supernormal stimuli, di mana yang paling mencolok dianggap paling benar, dan yang paling gaduh dianggap paling layak.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan kader, melainkan karena terlalu banyak orang yang sibuk mengejar paruh palsu dan melupakan tujuan utama organisasi itu sendiri. (*)
Editor : Idham Hasan
