Dinkes genjot imunisasi dan aktifkan posyandu untuk tekan angka kasus
Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Selatan, Asia Hasyim, mengatakan tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh akumulasi balita dengan pertumbuhan terlambat, termasuk yang memiliki tinggi badan di bawah standar usia.
“Balita dengan tubuh pendek masuk kategori stunting, sehingga secara akumulasi angkanya mencapai 33 persen lebih,” ujarnya Asia Hasyim kepada Lugopost, usai kegiatan Pelatihan Imunisasi di Hotel Buana Lipu, Desa Mandaong, Kecamatan Bacan Selatan, Senin (20/4).
Untuk menekan angka stunting, Dinas Kesehatan Halmahera Selatan mendorong optimalisasi program imunisasi di seluruh desa. Melalui pelatihan tersebut, tenaga kesehatan diminta meningkatkan deteksi dan penanganan dini, khususnya bagi ibu hamil dan balita.
Menurutnya, imunisasi memiliki peran penting dalam mendukung terwujudnya generasi sehat serta target daerah bebas stunting. Balita yang mendapatkan imunisasi lengkap dapat terhindar dari berbagai penyakit yang berpotensi menghambat pertumbuhan.
Ia menyebut sejumlah penyakit seperti campak, diare, dan polio yang kerap menyerang balita seharusnya sudah dapat dieliminasi. Namun, rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah wilayah masih menjadi kendala utama.
“Masih banyak balita yang tidak mendapatkan imunisasi, sehingga berdampak pada berat badan dan tumbuh kembang yang tidak terkontrol,” katanya.
Untuk itu, Dinas Kesehatan juga mengaktifkan kembali peran pos pelayanan terpadu (posyandu) di desa-desa. Pelatihan khusus diberikan kepada pengelola program imunisasi guna memastikan target cakupan dapat tercapai.
“Posyandu harus aktif. Kami dorong tenaga kesehatan di lapangan agar mampu mengejar target dan melakukan intervensi lebih cepat,” ujar Asia. (*)
Penulis : Idham | Editor : Redaksi
