CAHAYA TATABUA: KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MAKIAN BARAT DALAM MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Editor: Admin
Foto ilustrasi 

Oleh : 

Asyhari. A Usman dan Suharlin Ode Bau

Dosen ISDIK Kie Raha Maluku Utara

Tradisi Tatabua merupakan salah satu ekspresi kultural-religius masyarakat di Makian Barat yang hingga kini tetap hidup sebagai penanda kolektif datangnya Bulan Suci Ramadhan. Tatabua adalah sebuah tradisi di mana para tokoh agama menabuh tifa masjid dan gong di lingkungan masjid, kemudian disoraki anak-anak sambil menyuarakan seruan “yo… yo… yo… Puasa Ipodo mo” (yo… yo… yo… puasa telah tiba). Setelah prosesi penabuhan selesai, anak-anak tanpa komando berlari kecil mengelilingi kampung sambil mengulang kalimat tersebut secara bersama-sama. Praktik ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah peristiwa sosial yang sarat makna simbolik, spiritual, dan kultural.

Dalam perspektif antropologi agama, bunyi tifa dan gong bukan hanya elemen musikal, melainkan simbol komunikasi sakral. Tabuhan yang menggema di sekitar masjid menandai transisi waktu—dari keseharian menuju momentum spiritual Ramadhan. Masjid sebagai pusat aktivitas religius menjadi ruang simbolik tempat tradisi dan agama bertemu. Suara tifa dan gong berfungsi sebagai “panggilan kultural” yang berbeda dari azan, tetapi memiliki tujuan yang serupa: membangunkan kesadaran kolektif tentang datangnya waktu suci. Dengan demikian, Tatabua dapat dipahami sebagai bentuk artikulasi lokal atas nilai universal Islam, yakni kesiapan menyambut ibadah puasa dengan hati yang bersih dan penuh sukacita.

Partisipasi anak-anak dalam tradisi ini memiliki dimensi pendidikan sosial yang kuat. Sorakan “Puasa Ipodo mo” yang diulang-ulang bukan hanya ekspresi kegembiraan, tetapi juga proses internalisasi nilai keagamaan sejak usia dini. Tanpa instruksi formal, anak-anak berlari mengelilingi kampung, menyuarakan pesan yang sama dalam ritme kebersamaan. Fenomena ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang terbentuk secara alamiah melalui tradisi. Dalam konteks sosiologi, praktik semacam ini memperkuat solidaritas mekanis masyarakat, di mana kesamaan nilai dan pengalaman bersama menjadi perekat utama kohesi sosial.

Tatabua juga memperlihatkan bagaimana agama beroperasi dalam bingkai budaya lokal tanpa kehilangan substansi teologisnya. Seruan “Puasa telah tiba” menegaskan orientasi spiritual tradisi ini. Tidak terdapat unsur yang bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam; sebaliknya, ia menjadi medium ekspresi kegembiraan menyambut kewajiban ibadah. Dalam kerangka fiqh sosial, praktik seperti Tatabua dapat dipahami sebagai bagian dari ‘urf (adat kebiasaan) yang hidup dalam masyarakat dan berfungsi mendukung nilai-nilai syariat. Oleh karena itu, melihat Tatabua semata-mata sebagai folklor akan mereduksi maknanya yang lebih dalam sebagai sarana transformasi spiritual kolektif.

Namun demikian, di tengah arus modernisasi dan perubahan pola interaksi sosial, eksistensi tradisi ini menghadapi tantangan. Generasi muda yang semakin terpapar budaya digital berpotensi mengalami jarak emosional dengan praktik-praktik tradisional. Jika Tatabua tidak dimaknai secara reflektif, ia dapat tereduksi menjadi sekadar agenda tahunan tanpa pemahaman nilai. Oleh sebab itu, diperlukan upaya reinterpretasi yang kontekstual agar makna simbolik suara, bunyi, dan seruan kolektif tetap relevan dalam kesadaran generasi baru.

Secara kritis dapat ditegaskan bahwa Tatabua bukan hanya tradisi menyambut Ramadhan, tetapi juga mekanisme kultural dalam membangun identitas religius masyarakat Makian Barat. Ia menghubungkan tokoh agama, anak-anak, dan seluruh warga kampung dalam satu pengalaman spiritual yang sama. Tabuhan tifa dan gong menjadi representasi panggilan iman, sementara lari kecil anak-anak mengelilingi kampung melambangkan penyebaran kabar gembira tentang datangnya bulan suci. Dalam dinamika tersebut, Tatabua berfungsi sebagai cahaya, bukan dalam arti fisik semata, tetapi sebagai metafora pencerahan kolektif.

Dengan demikian, Tatabua dapat dipahami sebagai kearifan lokal yang memperlihatkan harmonisasi antara agama dan budaya. Ia bukan sekadar ritual tradisional, melainkan ruang sosial tempat nilai iman, kebersamaan, dan identitas diwariskan lintas generasi. Selama makna substantifnya terus dirawat dan dikontekstualisasikan, Cahaya Tatabua akan tetap menyala sebagai simbol kesiapan spiritual masyarakat Makian Barat dalam menyambut Ramadhan.

“Selamat memasuki Bulan Suci Ramadhan 1447 H, semoga setiap langkah dan niat kita dalam menyambutnya menjadi jalan menuju ketakwaan, keberkahan, dan ampunan Allah SWT.” (*

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com