![]() |
| Kasi Pengembangan Pendidik dan Pembangunan Karakter, Nurjawia |
Weda, Maluku Utara– Ketua Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Indonesia Kabupaten Halmahera Tengah, Nurjawia Hi Abdul Gani, S.Pd, menegaskan bahwa kemiskinan terbesar yang melanda masyarakat bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga minimnya pendidikan budi pekerti dan pembangunan karakter. Hal ini ia sampaikan dalam wawancara terkait pengambilan data untuk tesisnya.
Sebagai Kasi Pengembangan Pendidik dan Pembangunan Karakter, Nurjawia mengungkapkan bahwa dirinya tidak mencari pujian atau jabatan tinggi, melainkan bertekad untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia memilih tetap menjadi staf dan fokus membangun pendidikan di daerah terpencil.
"Saya memilih menjadi staf saja agar bisa lebih fokus membuka PAUD di desa-desa yang belum memiliki fasilitas pendidikan usia dini. Selain itu, saya juga menjadi tenaga sukarela untuk membimbing siswa kesetaraan yang masih buta huruf,"ungkap Nurjawia saat diwawancarai, Minggu (15/03).
Namun, perjuangannya tidak selalu berjalan mulus. Ia kerap menghadapi tantangan dan penolakan dari masyarakat yang enggan menerima bimbingan belajar.
“Terkadang saya mendata sambil menangis karena ada masyarakat yang menolak diberikan pendidikan, seolah membaca dan belajar bukan hal penting," tuturnya dengan penuh keprihatinan.
Mendorong Pemerintah untuk Bertindak
Untuk memperluas akses pendidikan, Nurjawia menekankan pentingnya kerja sama antara setiap desa dengan Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF/SKB) Halmahera Tengah. Menurutnya, siswa kesetaraan paket C harus mendapatkan sosialisasi dan bimbingan dari instruktur yang setara dengan pengajar SMA, bukan hanya sekadar memperoleh ijazah.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah untuk lebih tanggap dalam memperkuat jaringan SKB agar fasilitas pendidikan lebih memadai. Ia berharap lebih banyak lembaga kursus masyarakat dapat dibuka sehingga siswa kesetaraan yang mengikuti ujian memiliki kesempatan untuk belajar lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
"Tanpa pendidikan karakter, generasi kita akan semakin rapuh. Ini lebih berbahaya dibanding sekadar kemiskinan materi," tegasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membentuk manusia yang berakhlak dan memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan. (Idham)
