Oleh: Turmuji Jafar
(Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)
Tidak terasa kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan 1446 H/2025 M di mana puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah penting dalam agama Islam yang diwajibkan bagi seluruh umat muslim. Bulan ini adalah momentum yang tepat untuk mengintrospeksi diri sebagai hamba Allah SWT dan sebagai makhluk sosial. Esensi puasa mempunyai makna mencegah diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat tertentu. Ketika puasa hanya dimaknai ritual lahiriah semata, maka pembahasannya itu akan selesai.
Dalam konteks puasa umat Islam Indonesia, kita melihat praktik berbuka puasa sebagai ritual yang mempererat solidaritas sosial. Dengan berbuka puasa bersama, umat Islam menegaskan identitas kolektif mereka dan rasa memiliki sebagai sesama segmen dari komunitas muslim. Buka puasa bersama juga menciptakan rasa hubungan emosional dan memberi individu rasa senang dan hormat kepada sesuatu yang sakral. Puasa di kalangan umat Islam merupakan ibadah yang menempati posisi sentral dalam kehidupan beragama. Posisinya yang menempati urutan keempat dalam jajaran rukun Islam.
Selain itu, kalau kita menilik sejarah puasa, umur ibadah puasa sama tuanya dengan umur manusia karena merupakan salah satu dari tiga ibadah tua lainnya selain shalat dan qurban. Jadi tidak hanya untuk zaman sekarang saja diwajibkan untuk berpuasa, namun juga umat sebelum zaman Nabi Muhammad SAW. seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.s al-Baqarah: 183).
Tercatat awal pelaksanaan puasa pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Adam as. Dikisahkan dalam Tafsir ibnu Katsir bahwa: Nabi Adam, puasa selama tiga hari tiap bulan sepanjang tahun. Riwayat lain mengatakan bahwa Nabi Adam berpuasa tiap tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukurnya lantaran Allah Swt, telah mengizinkannya bertemu atau berjumpa dengan istrinya, Siti Hawa di Jabal Rahmah Arafah.
Puasa merupakan sarana untuk melatih manusia agar memiliki kepekaan sosial. Bisa di katakan bahwa puasa merupakan ajaran yang corak fisikal artinya menahan makan dan minum serta perbuatan seksual di siang hari. Selain itu tentu saja adalah larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tujuan puasa. Melalui puasa manusia diminta untuk merasakan bagaimana rasa lapar, haus dan menahan perbuatan-perbuatan yang bisa membatalkan ibadah puasa. Manusia akan merasakan jika pada waktu menjalankan puasa itu lapar dan dahaga, maka orang yang tidak bisa makan juga merasakan hal yang sama. Jika orang lain tidak bebas melakukan perbuatan-perbuatan yang semestinya bisa dilakukan, maka juga demikianlah yang dirasakan orang lain. Maka dengan puasa kita diajari agar memiliki kepekaan sosial. Pemahaman dan perasaan kita menjadi peka atas penderitaan orang lain.
Tujuan hidup berbangsa dan bernegara seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun tujuan tersebut tampaknya masih sebatas angan-angan semata. Hal ini terlihat dari semakin bertambahnya kemiskinan, rasa keadilan yang sulit dicari, dan timbul gejolak sosial di mana-mana. Begitu juga ditambahkan dengan kebijakan pemerintah terhadap efesiensi anggaran yang berdampak pada masalah ekonomi, pendidikan, dan masalah sosial lainnya.
Secara normatif, pembebasan seseorang atau sekelompok orang dari derita kemiskinan, dari kebodohan, dan ancaman ketertindasan, serta perlakuan tidak adil, adalah merupakan pokok pewahyuan ajaran Islam. Tidak peduli apakah si miskin, si bodoh, si tertindas itu memeluk Islam, memeluk agama lain, atau bahkan kafir, Islam berkepentingan membebaskan mereka dari segala penderitaan hidupnya. Tutur KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bahwa Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha Segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.
Maka dari itu agama adalah petunjuk bagi kehidupan manusia di dunia. Begitu pun problem banjir, tanah longsor dan gejala alam lainnya yang dialami manusia dimuka bumi ini bukan semata-mata nasib atau kemurkaan Tuhan tapi dampak dari tingkah laku manusia yang serakah, sebagaimana disinggung oleh Allah SWT, dalam Al-Qur’an: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali. (Q.s ar-Rum: 41). Tindakan yang istimewa di hadapan Tuhan, tutur Nabi Khidir kepada Nabi Musa, ialah tindakan melampaui suatu kewajiban karena belum tercatat dalam daftar kewajiban. Apakah tindakan demikian itu? Tindakan demikian itu ialah membela kaum mustadh’afin dengan memberi makan mereka yang kelaparan yang karena hasil pekerjaannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan. Tindakan berikutnya ialah memberi pakaian mereka yang telanjang akibat tidak bisa membeli pakaian penutup auratnya, dan membebaskan mereka yang tertindas.
Kesaksian iman tidaklah cukup dibuktikan dengan laku ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan haji, tetapi juga harus dibuktikan dengan aksi-aksi kemanusiaan, kepada siapa saja, tidak hanya seiman, kepada siapa saja yang butuh dengan ikhlas sepenuhnya bahwa hidayah bagi siapa pun adalah hak prerogratif Tuhan.
Berbagai praktik ritual yang selama ini dipercaya dilakukan sebagai maksud pembebasan kemiskinan tidak pernah berhasil hanya karena praktik ritual tersebut lebih ditujukan bagi kepentingan diri sendiri atas nama Tuhan. Hal ini mudah tergelincir menjadikan kaum mustadh’afin sebagai objek pencarian pahala yang hanya penting untuk menumpuk pahala dengan tujuan Tuhan selalu berpihak kepada pelaku dengan memberi sejumlah rezeki bagi kepentingan nasibnya di dunia dan nanti di akhirat. Praktik ritual kemudian lebih disibukkan oleh kegiatan mengurusi Tuhan bukan bagi kepentingan kaum mustadh’afin itu sendiri.
Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita agar peduli pada orang lain yang lemah. Apakah kita tidak merasa perhatian? Sehingga kita peduli untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan. Baik karena kondisi ekonomi, atau disebabkan bencana alam. Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta agama. Juga Allah mengatakan orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
Oleh karenanya Nabi Muhammad SAW, setiap awal Ramadhan selalu berkhutbah di depan para sahabat dan umat Islam saat itu, beliau menjelaskan kedudukan dan keutamaan Ramadhan dibanding bulan lainnya, agar umat Islam memiliki paradigma yang berbeda tentang bulan Ramadhan, serta tidak menyamakannya dengan bulan lainnya tujuannya adalah untuk memaksimalkan raihan hidayah dan pelaksanaan ibadah yang maksimal di dalamnya. Tidak diragukan lagi bahwa puasa memberikan manfaat yang besar bagi manusia baik dilihat dari aspek kesehatan, spiritual, maupun sosial, serta puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Setiap amalan anak Adam adalah miliknya, kecuali puasa, ia adalah milik-Ku, dan Akulah yang langsung akan mengganjarnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Bulan ini, manusia dididik untuk menjadi pribadi yang mau peduli terhadap sesama. Hal ini digambarkan kan, setiap orang yang berpuasa diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah maupun zakat mal. Selain berfungsi untuk mensucikan diri sendiri (tazkiyat an-nafs), juga bermakna agar orang yang berpuasa mempunyai kepedulian terhadap orang-orang yang ditindas atau orang-orang yang tidak mampu.
Emile Durkheim, yang dikenal dengan Bapak Sosiologi Modern, mengatakan bahwa solidaritas sosial adalah perekat yang menyatukan masyarakat. Ia mengidentifikasi dua jenis solidaritas sosial: sosial mekanis dan sosial organik. Solidaritas mekanis didasarkan pada kepercayaan, nilai, dan tradisi bersama, sedangkan solidaritas organik didasarkan pada rasa saling ketergantungan dalam masyarakat.
Jika pemahaman dan perasaan kita sudah peka atas penderitaan orang lain, maka kita akan memiliki kesadaran untuk membantu yang lain. Kita sadar bahwa di sekeliling kita masih ada banyak yang susah akibat dari penggusuran tanahnya, pemutusan hubungan kerja (PHK), diskriminasi serta problem lainnya yang membutuhkan bantuan kita. Saya berkeyakinan bahwa puasa yang kita lakukan merupakan instrument bagi kita semua agar di dalam kehidupan ini kita saling menenggang rasa, saling menghargai, saling memberikan kasih sayang dan saling menjaga satu dengan lainnya. Kita merasakan dan menyadari ada orang yang belum beruntung di lingkungan kita. Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2024 adalah 24, 06 juta orang.
Islam mengajarkan agar manusia saling menolong sebagaimana di tegaskan dalam Al-Qur’an: Saling ber tolong menolong lah kalian semua dalam kebaikan dan taqwa dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan kejahatan. (Q.s al-Maidah: 2). Esensi puasa sesungguhnya adalah instrument untuk mengingatkan manusia agar memahami kembali jati dirinya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Puasa merupakan pelatihan agar manusia berbuat kebaikan, maka pada akhirnya juga menghasilkan manusia yang terus berada di dalam aura solidaritas sosial dalam kebaikan.
Puasa ramadhan sesungguhnya menjadi solusi bagi persoalan di atas, jika dilaksanakan dengan penuh rasa keikhlasan karena Allah SWT. Hal ini beranjak dari asumsi bahwa suatu bangsa menjadi runtuh karena kebobrokan akhlak penduduknya. Ini berarti jika suatu bangsa ingin maju dan sejahtera harus dibangun sikap positif yaitu akhlakul karimah. Puasa adalah salah satu sarana menuju akhlak yang baik tersebut. Kehadiran Islam di muka bumi adalah untuk kesejahteraan manusia. Tidak dapat disangkal lagi bahwa puasa, sebagai segmen dari ajaran agama, memiliki korelasi terhadap terwujudnya kesejahteraan umat. Karena puasa mengandung nilai-nilai pendidikan seperti sikap ikhlas, jujur, disiplin, dermawan yang dapat mengantarkan pelakunya menjadi bahagia. Sikap positif inilah yang dibutuhkan bangsa kita guna menuju cita-cita Indonesia.
Penghujung dari tulisan ini, penulis ingin sampaikan, keyakinan akan ibadah mahdhah, seperti mengerjakan shalat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan haji, juga harus dibuktikan juga dengan aksi-aksi kemanusiaan. Puasa adalah bulan pendidikan, puasa juga sebagai media pengendalian diri atau fungsi kontrol syahwat lahiriyah dan batiniah dari manusia yang dimula dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dari gangguan bisikan syaitan. Iman dan ketakwaan seseorang tidak hanya dilihat dari pemenuhan rukun iman dan rukun Islam, melainkan juga pemihakan praktis pada kepentingan kaum mustadh’afin. Semoga kita termasuk dalam kategori hadis Nabi Muhammad SAW, yang menyebutkan: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad).

