HALMAHERA TENGAH — Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) terus mendorong masyarakat desa mengembangkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi baru. Salah satunya melalui Pelatihan Teknis Pengolahan Keripik Kasbi yang dilaksanakan di Desa Kotalo, Kecamatan Weda Timur, Kabupaten Halmahera Tengah, pada 20–22 September 2026.
Pelatihan tersebut diikuti 20 peserta yang hampir seluruhnya merupakan perempuan. Mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan mengolah ubi kayu atau kasbi menjadi keripik yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.
Kasbi yang digunakan dalam pelatihan merupakan salah satu komoditas yang dibudidayakan melalui Demonstration Plot atau Demplot Desa Kotalo. Pengembangan Demplot tersebut mendapat dukungan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal melalui Program TEKAD tahun 2025.
Melalui pelatihan ini, hasil pertanian masyarakat tidak hanya diarahkan untuk dikonsumsi atau dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk siap jual yang berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumah tangga dan produk unggulan desa.
Pengolahan keripik kasbi merupakan bagian dari upaya hilirisasi produk unggulan desa. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan Demplot sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi dari hasil pertanian masyarakat.
Program TEKAD mendorong masyarakat agar tidak berhenti pada kegiatan produksi bahan baku. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan mengolah, mengemas, mempromosikan, dan memasarkan produk agar mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Selain hasil pertanian, pendekatan serupa dapat diterapkan pada sektor perikanan serta berbagai potensi unggulan lain yang dimiliki desa. Dengan pengolahan yang tepat, sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang mampu menciptakan kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Untuk meningkatkan kemampuan peserta, Program TEKAD menghadirkan dua narasumber dari Universitas Khairun Ternate yang memiliki kompetensi dalam pengolahan produk pangan.
Dr. Ir. Yusnaink, S.Pt., M.P., IPM memberikan materi mengenai karakteristik dan pengolahan bahan baku ubi kayu serta sejumlah aspek teknis yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan produk olahan berkualitas.
Sementara itu, Indah Rosdianawati, S.P., M.Sc. membimbing peserta dalam proses pembuatan keripik kasbi, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga menghasilkan produk yang layak dikembangkan.
![]() |
| foto Istimewa |
Materi disampaikan melalui metode teori dan praktik. Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan keripik kasbi.
Pendekatan tersebut diharapkan memudahkan peserta memahami proses produksi dan mampu mempraktikkannya secara mandiri setelah pelatihan berakhir.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Kotalo, Fahmi Umar. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi Program TEKAD yang telah menghadirkan pelatihan teknis bagi masyarakat desanya.
Fahmi meminta seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan serius agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan narasumber dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap peserta mengikuti kegiatan ini dengan serius sehingga ilmu yang diperoleh dapat dipahami dan diaplikasikan, khususnya dalam pengolahan keripik kasbi,” ujar Fahmi.
Menurutnya, kesempatan mendapatkan pelatihan langsung dari tenaga ahli perguruan tinggi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dikembangkan menjadi aktivitas produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan keluarga.
Fasilitator Bidang Pengembangan Ekonomi Program TEKAD Kabupaten Halmahera Tengah, Adam Basirun, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan produk turunan berbasis potensi lokal.
Menurutnya, kemampuan mengolah hasil pertanian sangat penting agar masyarakat dapat menciptakan kegiatan ekonomi baru dari sumber daya yang tersedia di desa.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong ibu-ibu di desa agar semakin kreatif dan produktif. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi aktivitas ekonomi yang berpotensi menambah pendapatan rumah tangga,” kata Adam.
Ia berharap para peserta terus memproduksi dan mengembangkan keripik kasbi setelah pelatihan. Perhatian juga perlu diberikan terhadap kualitas, cita rasa, kebersihan, kemasan, perizinan, promosi, dan pemasaran produk.
“Keterampilan ini jangan berhenti pada pelatihan. Peserta diharapkan dapat membuat produk secara berkelanjutan dan memasarkannya sehingga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga,” lanjutnya.
Besarnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran mereka dalam perekonomian keluarga. Dengan keterampilan yang dimiliki, perempuan Desa Kotalo dapat memanfaatkan potensi di lingkungan sekitar untuk menghasilkan produk pangan bernilai ekonomi.
Keripik kasbi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan Desa Kotalo. Namun, pengembangannya membutuhkan konsistensi produksi, peningkatan kualitas, kemasan yang menarik, identitas produk, serta perluasan jaringan pemasaran.
Pelatihan ini menjadi contoh bagaimana hasil Demplot dapat dikembangkan melalui proses hilirisasi. Kasbi yang sebelumnya lebih banyak dikonsumsi atau dijual sebagai bahan mentah kini mulai diolah menjadi produk bernilai tambah.
Kolaborasi antara pemerintah desa, Program TEKAD, akademisi, fasilitator, dan masyarakat diharapkan mampu membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan di Desa Kotalo.
Dari kasbi yang tumbuh di lahan Demplot, masyarakat Kotalo mulai menciptakan produk. Dari produk tersebut, diharapkan tumbuh usaha baru, bertambahnya pendapatan keluarga, serta lahirnya produk unggulan yang membawa nama Desa Kotalo ke pasar yang lebih luas.



