Reporter : IL | Editor : Idham Hasan
![]() |
| Dapur SPPG Amasing Kota, Yayasan Gerbang Mas Obi, tempat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa. Foto : Ist/ LUGOPOST |
Kepala SPPG Amasing Kota, mitra Yayasan Gerbang Mas Obi, Fahima J. Lamasa, membenarkan pemberhentian enam karyawan tersebut saat ditemui sejumlah wartawan, Selasa (22/9/2026). Dalam kesempatan itu, Fahima didampingi ahli gizi, akuntan dan asisten lapangan.
SPPG Amasing Kota yang berlokasi di Desa Amasing Kota, Kecamatan Bacan, melayani kebutuhan MBG bagi 2.984 siswa, mulai dari jenjang TK, SD hingga SMA. Namun, ketidakhadiran enam tenaga dapur tersebut membuat proses penyediaan makanan terganggu dan berdampak terhadap ribuan siswa penerima manfaat.
Fahima menjelaskan, enam karyawan lepas tersebut tidak lagi masuk ke dapur untuk menjalankan tugas memasak. Menurutnya, setiap tenaga yang berhalangan hadir seharusnya memberikan pemberitahuan dan memastikan adanya tenaga pengganti agar kegiatan memasak tetap berjalan.
Mereka tidak masuk kerja. Minimal ada pengganti yang mereka utus. Mereka ini diam-diam tidak masuk. Kalaupun sakit, harus ada surat keterangan sakit,” tegas Fahima.
Ia menilai, ketidakhadiran tersebut merupakan bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab yang telah diberikan. Sebab, tugas di dapur berkaitan langsung dengan penyediaan makanan bagi ribuan siswa penerima manfaat MBG.
“Yang paling penting, kalau tidak masuk harus ada pengganti, bisa dari keluarga, sehingga tetap bisa memasak. Kasihan ribuan siswa, mereka yang terdampak karena tidak mendapatkan makanan,” ujarnya.
Fahima mengatakan, akibat pelanggaran tersebut, pihak SPPG dengan terpaksa memberhentikan enam karyawan lepas yang bersangkutan. Menurutnya, keputusan itu diambil sebagai bagian dari evaluasi terhadap kedisiplinan dan tanggung jawab tenaga dapur.
Ia juga menyebut, terganggunya pelayanan tersebut membuat pihak yayasan ikut menerima pertanyaan dari masyarakat. Padahal, menurut Fahima, kondisi itu terjadi karena para karyawan tidak menjalankan tanggung jawab mereka di dapur.
Fahima berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia menegaskan, seluruh tenaga yang terlibat dalam pelayanan MBG harus menjaga kedisiplinan dan memastikan kebutuhan makanan siswa tetap terpenuhi.
“Jangan sampai karena tenaga dapur tidak hadir, siswa yang akhirnya tidak mendapatkan makanan. Ini persoalan tanggung jawab. Kalau tidak masuk, harus ada pengganti supaya pelayanan tetap berjalan,” tandas Fahima. (*)


