![]() |
| Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku Utara, Yunus Maraden, saat diwawancarai sejumlah awak media usai menemui warga binaan Lapas Kelas III Labuha, Halmahera Selatan. |
Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Maluku Utara. Tim Kanwil turun ke Lapas Labuha tadi sore untuk menemui dan berkomunikasi langsung dengan warga binaan guna meredam situasi sekaligus menggali penyebab kejadian.
Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku Utara melalui Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pembinaan, Yunus Maraden, mengatakan pihaknya masih menelusuri rangkaian kejadian tersebut, termasuk informasi mengenai adanya warga binaan yang diduga menjadi pemicu awal.
Jadi tadi sudah dikomunikasikan dengan seluruh warga binaan terkait persoalan mereka. Memang ada miskomunikasi,” ujar Yunus kepada wartawan usai menemui ratusan warga binaan.
Menurut Yunus, pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya dalang di balik kejadian tersebut. Situasi disebut berkembang setelah muncul teriakan yang kemudian membuat emosi warga binaan lainnya ikut terpancing.
“Mungkin sebenarnya bukan dalang. Karena ketika ada teriakan awal saja yang membuat kondisi menjadi panas dan akhirnya terpancing,” katanya.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan adanya warga binaan yang menjadi pemicu tetap akan diperiksa.
Ada informasi terkait adanya napi di dalam. Itu akan kami periksa. Masih kami tindak lanjuti,” tegas Yunus.
Ia memastikan apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran, penanganannya akan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
Tak hanya warga binaan, kemungkinan keterlibatan pegawai juga menjadi bagian dari pemeriksaan. Yunus menegaskan, jika terdapat pegawai yang terbukti terlibat, pihak Kanwil akan mengambil tindakan sesuai ketentuan kepegawaian.
Kalau misalnya ada keterlibatan pegawai, pasti akan kami tarik dan kami lakukan pembinaan di Kantor Wilayah. Mungkin bisa dipindahkan, sesuai dengan prosedur yang berlaku,” jelasnya.
Yunus juga mengingatkan agar penanganan persoalan tersebut tidak diarahkan untuk mencari pihak yang disudutkan. Menurutnya, yang lebih penting adalah menemukan akar persoalan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Yang paling penting bukan mencari siapa yang harus disudutkan. Itu tidak menjadi solusi dan tidak bijak. Kita tetap mencari apa yang menjadi penyebabnya,” tandasnya. (*)
Reporter : IL | Editor : Idham Hasan


