DESA DOWORA BUTUH AIR, BUKAN JANJI

Editor: Admin

 

Nasir Haya

Di tengah geliat pembangunan, masyarakat Desa Dowora masih menghadapi keterbatasan air bersih. Persoalan kebutuhan dasar ini menjadi ujian bagi pemerintah dan wakil rakyat untuk berhenti berdebat serta menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan

Oleh

                        Nasir Haya, S.Pi., M.Si.                          Akademisi Universitas Nurul Hasan (UNSAN) Bacan

Apa arti pembangunan jika untuk mendapatkan setetes air bersih masyarakat masih harus berjuang? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi masyarakat Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, pertanyaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Di tengah geliat pembangunan yang terus digaungkan, masih ada warga yang menghadapi persoalan paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari: mendapatkan air bersih untuk minum, memasak, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bagi sebagian orang, air mungkin hanya perlu diperoleh dengan membuka keran. Namun, tidak demikian bagi sebagian masyarakat Desa Dowora. Keterbatasan akses air bersih memaksa warga mengandalkan air hujan, memanfaatkan sumber air lokal yang kualitasnya belum tentu layak untuk dikonsumsi, bahkan mengambil air dari wilayah lain menggunakan transportasi laut. Sebuah kenyataan yang seharusnya mengusik nurani kita semua.

Di sinilah persoalannya. Ketika pembangunan terus dibicarakan dalam berbagai ruang, masyarakat Desa Dowora masih dihadapkan pada pertanyaan yang sangat mendasar: **kapan air bersih benar-benar menjadi bagian dari kehidupan mereka?** Persoalan ini bukan sekadar tentang pipa, penampungan, atau proyek infrastruktur. Air bersih menyangkut kesehatan, kehidupan, martabat, kesejahteraan, dan hak dasar masyarakat.

Karena itu, persoalan air bersih di Desa Dowora tidak seharusnya hanya menjadi bahan pemberitaan ketika keluhan masyarakat kembali mencuat. Lebih dari itu, persoalan ini harus menjadi panggilan bagi seluruh pihak yang memiliki kewenangan untuk berhenti berdebat dan mulai menghadirkan solusi.

Ironisnya, persoalan air bersih di Desa Dowora bukanlah persoalan yang baru muncul. Keluhan masyarakat mengenai keterbatasan akses air telah disuarakan dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, persoalan yang seharusnya menjadi perhatian bersama hari ini bukan lagi tentang siapa yang paling banyak berbicara atau siapa yang paling cepat memberikan tanggapan, melainkan bagaimana persoalan tersebut dapat diselesaikan secara nyata dan berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, persoalan air bersih tidak seharusnya terjebak dalam ruang perdebatan politik. Politik semestinya menjadi instrumen untuk menyelesaikan persoalan masyarakat melalui kebijakan, penganggaran, pembangunan, pelayanan publik, dan pengawasan. Politik seharusnya hadir untuk menjawab kebutuhan rakyat, bukan sekadar menjadi arena untuk mempertahankan kepentingan dan membangun citra.

Masyarakat Desa Dowora tentu tidak membutuhkan perdebatan panjang mengenai siapa yang paling peduli terhadap persoalan mereka. Mereka membutuhkan jawaban yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat penting: kapan air bersih dapat tersedia secara layak, aman, terjangkau, dan berkelanjutan?

Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan pernyataan atau janji. Jawaban sesungguhnya harus diwujudkan melalui kebijakan yang jelas dan tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Karena itu, air bersih tidak boleh ditempatkan sebagai komoditas politik. Persoalan ini tidak boleh hanya menjadi perhatian ketika masyarakat mulai bersuara atau ketika isu tersebut ramai diperbincangkan. Air bersih harus menjadi bagian dari agenda pembangunan yang direncanakan secara serius dan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Pemerintah Desa memiliki posisi penting sebagai pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Pemerintah desa harus mampu mendata kebutuhan warga secara akurat, mengidentifikasi potensi sumber air, serta memasukkan persoalan tersebut ke dalam perencanaan pembangunan desa. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar persoalan yang tidak dapat diselesaikan melalui kewenangan desa dapat memperoleh penanganan pada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan memiliki peran strategis dalam memastikan pelayanan dasar masyarakat dapat terpenuhi. Persoalan air bersih membutuhkan perencanaan yang matang dan berbasis pada kondisi nyata di lapangan. Jika persoalannya berkaitan dengan ketersediaan sumber air, maka perlu dilakukan kajian dan pemetaan. Jika persoalannya terletak pada infrastruktur, maka pembangunan sarana penyediaan air harus menjadi perhatian. Sementara jika kendala utama adalah anggaran, maka dibutuhkan keberpihakan kebijakan agar kebutuhan dasar masyarakat tidak terus tertunda.

DPRD juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam persoalan ini. Melalui fungsi penganggaran, DPRD dapat memastikan kebutuhan masyarakat memperoleh dukungan dalam pembahasan anggaran. Melalui fungsi pengawasan, DPRD dapat memastikan program yang telah direncanakan benar-benar dilaksanakan dan memberikan manfaat. Sementara melalui fungsi representasi, wakil rakyat memiliki tanggung jawab untuk membawa aspirasi masyarakat Desa Dowora ke dalam proses pengambilan kebijakan.

Karena itu, kritik masyarakat terhadap wakil rakyat, termasuk anggota DPRD dari Daerah Pemilihan III, seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Kritik tidak selalu berarti serangan politik. Dalam banyak hal, kritik merupakan bentuk harapan masyarakat agar aspirasi mereka didengar dan diperjuangkan. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, masyarakat memiliki hak untuk bertanya sejauh mana persoalan mereka menjadi perhatian dalam kebijakan pembangunan.

Namun, kritik terhadap wakil rakyat juga harus menjadi energi untuk mencari jalan keluar, bukan memperpanjang perdebatan. Persoalan air bersih tidak boleh berhenti sebagai bahan perbincangan atau menjadi isu yang hanya muncul ketika terjadi ketegangan politik. Yang lebih penting adalah memastikan setiap pihak menjalankan perannya sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Masyarakat Desa Dowora tidak membutuhkan saling menyalahkan antara pemerintah dan lembaga politik. Mereka membutuhkan kerja bersama. Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten, DPRD, perangkat daerah terkait, serta berbagai pihak yang memiliki kapasitas perlu membangun komunikasi dan koordinasi untuk mencari solusi yang tepat.

Jika persoalannya adalah sumber air, maka perlu dilakukan kajian secara serius untuk menemukan sumber yang dapat dimanfaatkan. Jika persoalannya adalah infrastruktur, maka pembangunan harus direncanakan berdasarkan kebutuhan dan kondisi geografis wilayah. Jika persoalannya adalah pengelolaan, maka masyarakat perlu dilibatkan agar sarana yang dibangun dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, persoalan air bersih di Desa Dowora merupakan ujian sederhana tentang keberpihakan pembangunan. Kita sering berbicara tentang kemajuan, pertumbuhan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, semua ukuran tersebut akan kehilangan makna apabila kebutuhan paling mendasar masyarakat belum dapat terpenuhi.

Pembangunan yang sesungguhnya tidak hanya dapat diukur dari banyaknya proyek yang dibangun atau bangunan yang diresmikan. Pembangunan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika seorang ibu tidak lagi kesulitan mendapatkan air untuk memasak, ketika anak-anak dapat memperoleh air yang layak untuk dikonsumsi, dan ketika masyarakat tidak lagi harus bergantung pada air hujan atau mengambil air dari wilayah lain, maka di situlah pembangunan benar-benar hadir.

Karena itu, sudah saatnya persoalan air bersih di Desa Dowora keluar dari ruang perdebatan dan masuk ke ruang solusi. Tidak perlu mencari siapa yang paling berjasa, apalagi sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama untuk memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap air bersih yang layak, aman, terjangkau, dan berkelanjutan.

Desa Dowora tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Masyarakat membutuhkan kepastian. Mereka membutuhkan langkah nyata dari seluruh pihak yang memiliki kewenangan. Sebab pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak akan mengingat siapa yang paling lantang berbicara tentang persoalan mereka, tetapi mereka akan mengingat siapa yang benar-benar hadir membawa solusi.

Desa Dowora membutuhkan air bersih. Dan kebutuhan itu tidak seharusnya terus-menerus menunggu untuk dipenuhi. 

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com