![]() |
| foto Istimewah |
Oleh: Nasir M. Ali
Pegawai Kementerian Haji dan Umrah
Kota Ternate
Di setiap musim haji, perhatian masyarakat umumnya
tertuju pada keberangkatan jamaah menuju Tanah Suci. Tangis haru keluarga yang
melepas, doa-doa yang dipanjatkan, hingga semangat para calon haji yang bersiap
memenuhi panggilan Allah menjadi pemandangan yang selalu menggetarkan hati.
Namun, ada satu fase yang sering luput dari perhatian publik, yakni saat para
tamu Allah kembali ke tanah air setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah
haji.
Padahal, bagi banyak keluarga, kepulangan jamaah
merupakan momen yang tidak kalah penting dibanding keberangkatan. Di balik
senyum yang mengembang dan pelukan yang menghangatkan, tersimpan penantian
panjang yang penuh doa, kecemasan, dan harapan agar orang-orang tercinta dapat
kembali dalam keadaan sehat dan selamat.
Beberapa hari lalu, saya menyaksikan secara langsung
suasana itu di Asrama Haji Sudiang Makassar. Ratusan jamaah yang tergabung
dalam Kloter 15 tiba setelah menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci.
Wajah-wajah lelah terlihat jelas, tetapi rasa syukur jauh lebih dominan. Ada
yang menundukkan kepala sembari berzikir, ada yang meneteskan air mata ketika
menghubungi keluarga, dan ada pula yang hanya tersenyum sambil memandangi
langit malam Indonesia yang kembali mereka pijak.
Momen-momen seperti itulah yang mengingatkan kita
bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah dan Madinah.
Haji adalah perjalanan hati, perjalanan penghambaan yang mengubah cara pandang
seseorang terhadap kehidupan. Karena itu, kepulangan jamaah bukan sekadar
perpindahan dari satu negara ke negara lain, melainkan kembalinya seorang
muslim yang telah membawa pengalaman spiritual yang sangat berharga.
Di balik kepulangan yang tampak sederhana itu,
sesungguhnya terdapat kerja panjang yang dilakukan oleh banyak pihak. Mulai dari
petugas di Arab Saudi, petugas embarkasi, tenaga kesehatan, petugas
transportasi, hingga jajaran Kementerian Haji dan Umrah yang memastikan setiap
tahapan berjalan dengan baik. Mereka bekerja dalam senyap, sering kali jauh
dari sorotan kamera dan pemberitaan.
Bagi sebagian orang, tugas petugas haji mungkin
dianggap selesai ketika jamaah meninggalkan Tanah Suci. Kenyataannya tidak
demikian. Pelayanan justru terus berlanjut hingga jamaah tiba di daerah asal
dan kembali berkumpul bersama keluarga mereka. Tidak sedikit petugas yang harus
berada di bandara hingga larut malam, melakukan koordinasi berjam-jam,
memastikan data jamaah sesuai, mengurus kebutuhan lansia, membantu jamaah yang
mengalami kelelahan, hingga memastikan tidak ada jamaah yang tertinggal dalam
proses pemulangan.
Kerja-kerja seperti ini mungkin tidak selalu terlihat.
Namun justru di sanalah letak makna pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan
bukan hanya soal prosedur dan administrasi, tetapi tentang menghadirkan rasa
aman bagi jamaah dan keluarganya. Pelayanan adalah memastikan bahwa setiap tamu
Allah mendapatkan perhatian yang layak sejak berangkat hingga kembali ke rumah.
Dalam suasana bahagia kepulangan jamaah, terselip pula
duka yang mengajarkan kita tentang makna keikhlasan. Pada Kloter 15, dua jamaah
wafat di Tanah Suci saat menjalankan ibadah haji. Kepergian mereka mengingatkan
kita bahwa tidak semua yang berangkat dapat kembali ke kampung halaman. Namun,
bagi umat Islam, wafat saat menunaikan ibadah haji merupakan kemuliaan yang
diharapkan banyak orang. Di tengah rasa kehilangan, kita diajarkan untuk
menerima takdir Allah dengan penuh ketundukan.
Karena itu, setiap kali menyambut kepulangan jamaah
haji, sesungguhnya kita sedang menyaksikan dua hal sekaligus: kebahagiaan
karena para tamu Allah kembali dengan selamat, dan pelajaran tentang keikhlasan
dari mereka yang dipanggil menghadap Sang Pencipta di Tanah Suci.
Kementerian Haji dan Umrah hadir di antara dua
peristiwa tersebut. Bukan sekadar sebagai institusi yang mengurus dokumen
perjalanan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar negara dalam melayani umat.
Di tengah kompleksitas penyelenggaraan haji yang melibatkan ribuan jamaah dan
berbagai aspek pelayanan, hadirnya negara menjadi wujud nyata bahwa ibadah ini
tidak dijalani sendirian.
Masyarakat mungkin hanya melihat jamaah turun dari
pesawat dan bertemu kembali dengan keluarga. Akan tetapi, di balik momen yang
berlangsung beberapa menit itu terdapat tanggung jawab besar yang dijalankan
dengan penuh kesungguhan. Ada petugas yang rela meninggalkan keluarga untuk
sementara waktu, ada yang bekerja tanpa mengenal jam, dan ada yang memilih
tetap bertugas meski kelelahan demi memastikan para tamu Allah tiba dengan
aman.
Pada akhirnya, mengawal kepulangan jamaah haji bukan
sekadar pekerjaan. Ia adalah amanah. Amanah untuk menjaga kepercayaan umat,
amanah untuk memberikan pelayanan terbaik, dan amanah untuk memastikan bahwa
kebahagiaan yang dibawa pulang dari Tanah Suci dapat sampai ke pelukan keluarga
dengan selamat.
Sebab, di balik setiap jamaah yang kembali ke rumah,
ada doa orang tua yang terjawab, ada kerinduan seorang anak yang terobati, dan
ada rasa syukur sebuah keluarga yang akhirnya dapat menyambut kembali orang
tercinta. Dan ketika semua itu terjadi, kita sadar bahwa tugas mengawal tamu
Allah bukan hanya tentang perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga tentang
memastikan mereka pulang dengan penuh kemuliaan.
