![]() |
| foto sagu |
Halmahera Tengah —
Upaya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal terus menunjukkan hasil positif
di Desa Tepeleo Batu Dua, Kecamatan Patani Utara. Melalui Program Transformasi
Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), Kelompok Pengolah dan Budidaya (KPB) Batu Dua
berhasil meningkatkan produksi sekaligus memperluas pemasaran sagu rumbia,
komoditas pangan utama masyarakat Maluku Utara.
Ketua KPB Batu
Dua, Ibu Yuliani Djabar, menjelaskan bahwa pengolahan sagu masih mempertahankan
teknik tradisional yang dipadukan dengan manajemen usaha yang lebih tertata.
Proses dimulai dari penebangan pohon sagu siap panen, pembelahan batang,
pemarutan, pemerasan pati, hingga pengendapan untuk menghasilkan sagu mentah.
Selanjutnya, sagu dibakar menggunakan forno atau tungku produksi hingga menjadi
sagu matang siap konsumsi.
“Hingga saat ini
kami sudah memproduksi 20 karung sagu. Dalam satu minggu rata-rata 2 sampai 5
karung ukuran 25 kilogram, tergantung bahan baku dan tenaga kerja,” ujar
Yuliani.
Dalam satu kali
proses pembakaran, forno mampu menghasilkan enam lempeng sagu. Setiap lempeng
diiris menjadi lima hingga enam bagian, lalu dikemas menjadi delapan irisan
kecil dan dijual seharga Rp10.000 per bungkus. Dari satu karung sagu, kelompok
mampu memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp500.000.
Permintaan pasar
terbilang tinggi. Produk sagu matang yang dipasarkan biasanya habis terjual
dalam waktu dua hari. Selain memenuhi pasar lokal di Patani Utara, KPB Batu Dua
kini mulai menerima pesanan dari luar kabupaten, membuka peluang ekspansi pasar
yang lebih luas.
Tidak berhenti
pada sagu matang, kelompok juga berencana memasarkan sagu mentah dalam bentuk
kiloan maupun karung 25 kilogram dengan harga Rp350.000 hingga Rp400.000 per
karung. Sagu mentah tersebut banyak diminati untuk bahan baku papeda, bagea,
sagu talang, serta aneka kue tradisional lainnya.
Program TEKAD yang
difasilitasi pemerintah daerah dan Kementerian Daerah Tertinggal memberikan
pendampingan intensif mulai dari manajemen produksi, pencatatan keuangan,
pengemasan, hingga strategi pemasaran. Pendampingan berjenjang dari tingkat
kabupaten, kecamatan, hingga desa meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri
anggota kelompok dalam mengembangkan usaha.
Ke depan, KPB Batu
Dua menargetkan peningkatan kapasitas produksi melalui penambahan peralatan dan
perluasan jaringan distribusi ke wilayah lain di Halmahera Tengah bahkan kabupaten
tetangga. Potensi sagu sebagai pangan lokal bernilai ekonomi tinggi diyakini
dapat menjadi salah satu pilar penguatan ekonomi desa.
Melalui
pengelolaan berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak, demplot pengolahan
sagu rumbia di Desa Tepeleo Batu Dua diharapkan menjadi contoh sukses
pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal di Maluku Utara.
