![]() |
| foto istimewah |
Jakarta-Suasana Ramadan yang penuh berkah terasa hangat di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Lebih dari 200 peserta yang terdiri dari politisi, akademisi, pengusaha, ulama, serta mahasiswa asal Sulawesi Selatan di DKI Jakarta berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar IKAMI Sulsel. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan santunan kepada 50 anak yatim yang bekerja sama dengan Masjid Istiqlal.
Ketua Umum PB IKAMI, Andi In’amul Hasan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama, tetapi momentum memperkuat solidaritas diaspora Sulawesi Selatan di perantauan.
“Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, mempertemukan generasi senior dan junior IKAMI Sulsel. Kita ingin memperkuat nilai kekeluargaan, solidaritas, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sarasehan Ramadan menghadirkan sejumlah tokoh sebagai narasumber, di antaranya Moh Ridwan Andreas (Ketum Partai Berkarya Indonesia), Syamsul Zakaria (Ketua KKSS DKI Jakarta), Dr. Andi Jamaro Dulung (Ketua MPO PB IKA PMII), Dr. Mulawarman Hannase (Kabid Diklat Masjid Istiqlal), dan Dr. Muhammad Aras Prabowo (Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia).
Dalam sesi refleksi inspiratif, Dr. Muhammad Aras Prabowo membagikan kisah perjalanan hidupnya yang mengundang semangat para peserta, khususnya mahasiswa perantau.
“Saya anak petani, kedua orang tua saya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), tapi bisa menghasilkan anak dengan gelar Doktor di bidang Ilmu Akuntansi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari nilai-nilai budaya Bugis yang terus dipegang teguh dalam kehidupan perantauan.
“Saya anak perantau dan memegang teguh prinsip Siri’ dan Pesse. Siri’ mengandung nilai lempu (integritas), tongeng (kebenaran), getteng (konsistensi), asitinajang (profesionalitas), dan amaccang (kompetensi). Sedangkan Pesse adalah sikap kolektif seperti sipakatau (saling menghormati), sipakainge (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling menghargai), dan sipatokkong (saling menolong),” jelasnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kuat bagi orang Bugis-Makassar untuk mampu beradaptasi dan berkembang di berbagai tempat.
“Ini adalah karakter orang Bugis Makassar yang membuatnya bisa hidup di manapun di perantauan. Kita memiliki kekuatan silaturahim lintas suku dan sikap kolektif yang kuat,” katanya.
Sebagai akademisi, Dr. Aras juga menegaskan komitmennya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak tercerabut dari akar budaya.
“Saya punya prinsip keberpihakan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai budaya Bugis. Dari S1 hingga doktoral di bidang akuntansi, karya ilmiah saya selalu menyandingkan ilmu akuntansi dengan nilai-nilai budaya Bugis. Alhamdulillah saya menyelesaikan S3 di usia 30 tahun dan menjadi salah satu doktor muda di bidang ilmu akuntansi di Indonesia,” ujarnya.
Kegiatan ini berlangsung penuh kehangatan, mempertemukan lintas generasi dalam semangat kebersamaan Ramadan. Undangan kegiatan yang disampaikan oleh panitia juga menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum mempererat silaturahmi.
“Ramadan waktuna saling mempererat silaturahmi. Iyami waktuna kita berkumpul, saling sapa, saling menguatkan, sambil berbagi keberkahan Ramadan,” demikian pesan undangan PB IKAMI Sulsel.
Dengan semangat Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan komunitas terletak pada persaudaraan, saling menghargai, dan semangat berbagi.
