Oleh:
Qenan Rohullah
(Analis Geopolitik Global dan Militer Indpenden)
Latar peristiwa dari tulisan ini adalah mengurai sebuah khayalan kemajuan sebuah daerah yang terhipnotis oleh statistik pertumbuhan ekonomi industri, namun kalangan intelektual dari akademik sains dan fisika atau umumnya IPTEK, terkesan memilih sebagai pekerja industri korporasi yang tersebar di pulau Halmahera.
Dimensi lain yang mengecewakan adalah para mahasiswa yang notabenenya dari jurusan Fisika dan Kimia tidak jadi lokus garda depan eksperimen sumber daya alam, namun terkunci pada kerasnya struktur ekonomi keluarga sehingga, banyak yang melepaskan isi kepalanya untuk menjadi buruh Industri. Ditengah kemajuan sains dan IPTEK di Provinsi negara-negara maju ditonton oleh pejabat pemerintah kita di Maluku Utara, dan memuji atas kemajuan itu, kelanjutannya yang sangat aneh adalah mereka mengapresiasi. Justru luput penglihatan atas statistik yang dipublikasi oleh media bahwa Provinsi Maluku Utara perekonomian tumbuh semakin pesat, pertanyaan yang menggelikan adakah Insinyur sains dan fisika? Atau adakah anak muda (mahasiswa) yang menemukan hasil eksperimen dan dikembangkan menjadi sebuah industri komersial yang menopang pembangunan daerah? Tentu belum sampai disini.
Kata tolol mungkin menjijikkan untuk di ucapkan, lantas frasa yang moralis seperti apa untuk mengkritisi hal ini kepada penentu kebijakan? Ambisi yang tanpa alas pijak adalah sebuah lelucon bagi musuh yang menguasai kesadaran sebuah masyarakat. Pernahkan kita mendengar merek Android yang tertulis " Made in Maluku Utara, atau prodak teknologi lain yang labelnya dari hasil karya kita, ini nihil sebab tidak ada pikiran pejabat daerah untuk hal ini. Kita punya uranium, kita punya nikel, kita punya emas, batu bara, tapi kita tetaplah sampah kebodohan yang tidak pernah di daur ulang.
Rancang bangun proyeksi sumber daya manusia yang berkelanjutan adalah suatu wujud dari pengamatan dan evaluasi bertahap atas mutu dan kualitas pendidikan di Maluku Utara yang masih seperti terisolasi atas tidak tersedianya kebijakan yang terarah, atau selaras dengan akselerasi pendidikan yang dibawah orbit pengaruh globalisasi.
Sementara itu, sudah kita mengetahui benar adanya peningkatan mutu sumber daya manusia global, semuanya tumbuh berkembang dalam ruang epistemologi Sains, Teknologi, Cyber Security, Keuangan Digital dan Menajemen Bisnis Internasional. Untuk disadari betul, bahwasanya secara tidak langsung, dunia dan geopolitiknya memaksakan kita untuk survive sekaligus berdiri sebagai standing position, atau sesederhana yang bisa dikatakan adalah mempunyai kesiapan dini menuju suatu perjumpaan dengan masyarakat global.
Sebuah kebijakan yang kontekstual dinyatakan langsung oleh Wamendiktisaintek, Stella Christie, disela-sela China-Indonesia Education Industry Summit-2025, mengungkapkan bahwa perlu adanya dorongan bersama terkait peneliti dan industri, mendukung hilirisasi pendidikan, serta memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi dan inovasi, terutama lulusan yang menguasai bahasa mandarin dan budaya kerja kedua negara. Kontekstualisasi dengan hal lain, menuju fase abad 21 semua generasi dari negara manapun yang terintegrasi pada pusaran globalisasi, ikut mengambil peran secara multidimensi, berupa sains dan teknologi misalkan, Teknik rekayasa nuklir, rekayasa pesawat udara, desain inovasi teknologi sarana sosial dibidang transportasi digital maupun robotik, serta eksperimen berlanjut pada sektor farmasi, ini adalah sebuah kenyataan serius yang kita hadapi bersama-sama.
Telah sudah diketahui secara nasional, bahwa suatu wilayah di Indonesia yang tumbuh pesat perekonomiannya, berkiprah pada sumber daya mineral yang dikelolah secara berkala yakni Maluku Utara. Angka pertumbuhan ekonomi itu telah terpublikasi mencapai 39,10 %, tertinggi dari Provinsi lain yang ada di Indonesia. Sementara posisi kualitas manusia dengan daya saing masih terlihat ada pada posisi jauh dengan korelasi yang diakomodir oleh tuntutan globalisasi. Growth ekonomi dari sektor hilirisasi industri pertambangan dalam periode 2024 kuartal-III mencapai 39,10 persen (Y-on-Y), BPS-Malut. Dan di update dari publikasi media Haliyora_id, lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industry pengelolaan sebesar 67, 24 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 61,62 persen.
Meskipun adanya peningkatan secara evolusi berdasarkan hasil data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Maluku Utara dalam frekuensi terbit tahunan periode 2024, yang dirilis pada tanggal 15 November, mencapai 71,84 meningkat (0,86 poin) atau naik 1,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya 70,98. Selama kurun waktu empat tahun dari 2020 hingga 2024 IPM Maluku Utara rata-rata meningkat sebesar 0,90 persen per tahun (sumber: suara ternate.com/11/15/2024). Angka perubahan ini tidak terlihat secara faktual yang selaras dengan tekanan globalisasi, misalkan pengembangan riset & eksperimen disektor ekonomi digital dan fisika nuklir.
Peningkatan ini secara general tidak diikutkan serta dalam fasilitas yang inovatif, kreatif serta berdaya cipta. Perbandingannya dengan kemampuan mengelola dunia pekerjaan yang berkelanjutan serta interaksi ekonomi inklusif pada level tertentu, belum bisa dipastikan, sebab fasilitas inklusif yang terpusat tidak tersedia.
Secara komperhensif justru kita lambat untuk tumbuh sejajar dengan Kota-Kota di negara yang sains dan pengetahuan maju, seperti Iran, Jepang, Korea, India dan Tiongkok, diluar dari Russia dan Amerika Serikat yang lebih dulu. Padahal, isu sains dan teknologi informatika cukup penting dalam pusaran masyarakat di abad 21, namun paradigma perencanaan tata kelola sumber daya manusia di Maluku Utara belum terarah ke dimensi tersebut. Semakin ambivalensi atas akselerasi sumber daya pendidikan kita dan konsistensi pengelolaan industri pertambangan untuk kemajuan daerah.
Kekhawatiran yang mendekam dalam pikiran adalah kalaupun de industrialisasi terjadi di Maluku Utara, dan para pemegang saham industri tambang tidak lagi produksi bahan mentah lantaran persediaan nya menipis, mampukah kita menjawab kemajuan kita yang berkelanjutan? Sementara sains kita lemah.
