![]() |
| Foto istimewa |
Ternate — Akademisi Universitas Khairun, Dr. Mukhtar A. Adam, M.Si, menilai kondisi ekonomi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Maluku Utara menghadapi tekanan yang cukup berat akibat berbagai faktor struktural, mulai dari tingginya beban kredit hingga mahalnya harga barang konsumsi.
Mukhtar menjelaskan bahwa sebagian besar gaji pokok ASN saat ini telah menjadi agunan kredit konsumtif di perbankan sehingga ruang fiskal rumah tangga ASN menjadi sangat terbatas.
Ia memperkirakan sekitar 80 persen gaji pokok ASN terserap untuk pembayaran cicilan kredit yang dikelola oleh perbankan.
“Dalam banyak kasus, sebagian besar gaji pokok ASN sudah habis untuk membayar kewajiban kredit di bank,” ujarnya.
Selain beban kredit, ASN di Maluku Utara juga menghadapi tingginya biaya transportasi, terutama bagi pegawai yang harus melakukan mobilitas kerja antara Ternate dan Sofifi maupun Tidore dan Sofifi.
Mukhtar juga menyoroti perbedaan harga barang konsumsi di Maluku Utara yang relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa provinsi lain di kawasan timur Indonesia seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak ASN di Maluku Utara tidak memiliki ruang yang cukup untuk menabung karena sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan rumah tangga.
Ia juga menilai adanya faktor sosial budaya yang turut menambah tekanan ekonomi bagi ASN.
Dalam masyarakat, ASN sering dipandang sebagai kelompok dengan status sosial yang lebih tinggi sehingga memiliki beban sosial dalam hubungan kekerabatan dan komunitas.
“ASN sering menjadi simbol sosial di masyarakat, padahal dalam kenyataannya banyak dari mereka memiliki keterbatasan sumber pendapatan,” kata Mukhtar.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan terkait penghasilan ASN.
“Sebagai praktisi ekonomi di Maluku Utara, saya melihat tekanan ekonomi terhadap rumah tangga ASN cukup nyata dan perlu diperhatikan dalam kebijakan publik,” ujarnya.
