Momentum Idul Fitri dan Nyepi 2025: Merajut Harmoni dan Toleransi di Maluku Utara

Editor: Admin

 

Gambar ilustrasi 

Tahun 2025 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya di Kota Ternate, ketika dua hari besar keagamaan, Idul Fitri 1446 H dan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, dirayakan dalam waktu yang hampir bersamaan. Keberagaman ini menjadi simbol indahnya harmoni dan toleransi antarumat beragama yang telah lama terjalin di bumi Moloku Kie Raha.  

Di penghujung Ramadan, umat Islam khusyuk mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Sementara itu, umat Hindu juga tengah memasuki masa persiapan menuju Hari Raya Nyepi, hari yang penuh makna untuk melakukan penyucian diri dan introspeksi. Peristiwa langka ini menjadi kesempatan bagi kedua komunitas untuk saling berbagi kasih sayang dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan.  

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Maluku Utara, Dr. Adnan Mahmud, M.A., menegaskan bahwa kebersamaan dalam menyambut dua hari besar ini merupakan cerminan kuatnya toleransi di tengah masyarakat.  

"Momentum ini bukan sekadar peristiwa kalender, tetapi cerminan bahwa keberagaman di Maluku Utara adalah kekuatan. Ketika umat Islam merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan umat Hindu menjalankan Nyepi dengan khidmat, kita semua belajar arti dari saling menghormati, menjaga ketenangan, dan berbagi kebahagiaan," ujarnya.  

Akademisi IAIN Ternate itu menerangkan dalam Islam, bulan Ramadan terbagi dalam tiga fase utama: 10 hari pertama sebagai rahmat, di mana umat Islam diajak memperkokoh ikatan sosial dan menumbuhkan empati, tidak hanya kepada sesama Muslim tetapi juga kepada seluruh umat manusia. 10 hari kedua adalah fase maghfirah atau ampunan, di mana umat diminta untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak doa dan ibadah. Sementara itu, 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka, yang mengajarkan nilai-nilai spiritualitas tinggi dan memperkuat solidaritas antarsesama.  

DR. Adnan Mahmud., M.A. Ketua FKUB Provinsi Maluku Utara 

"Masyarakat Maluku Utara yang dikenal dengan keberagamannya telah menjadikan perayaan Idul Fitri dan Nyepi ini sebagai ajang untuk semakin mempererat tali persaudaraan. Warga Muslim dengan penuh kesadaran menghormati prosesi Nyepi, sementara umat Hindu turut merasakan kegembiraan Idul Fitri dalam suasana damai dan penuh toleransi," Jelas Adnan.

Menurutnya, harmoni ini adalah bagian dari sunnatullah, sebuah ketetapan Tuhan yang mengajarkan bahwa keberagaman adalah anugerah, bukan hambatan.  

"Keberagaman ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi. Idul Fitri mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan merajut kembali hubungan yang renggang, sedangkan Nyepi mengajarkan makna perenungan dan kedamaian. Dua nilai ini sejatinya bisa kita adopsi dalam kehidupan sosial, agar Maluku Utara tetap menjadi tanah yang damai dan rukun," lanjut Adnan. 

Perayaan dua hari besar yang berdekatan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman agama bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan justru menjadi modal utama dalam membangun masyarakat yang harmonis. 

Di tengah dunia yang penuh tantangan, Maluku Utara menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi realitas yang hidup dan terus dijaga. Dengan semangat Idul Fitri dan makna Nyepi yang mendalam, masyarakat Maluku Utara membuktikan bahwa kebersamaan dalam perbedaan adalah kekuatan terbesar dalam membangun negeri ini," pungkasnya. (Red/Mal)

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com