Labuha, Maluku Utara – PT. Wanatiara Persada, bekerja sama dengan Polres Halmahera Selatan, menggelar pelatihan dan edukasi di bidang ketahanan pangan. Acara yang berlangsung di Aula Polres Halmahera Selatan ini mengusung tema “Realisasi Program Pengembangan Masyarakat Bidang Pertanian” dan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT. Wanatiara Persada dan Kelompok Tani Polres Halmahera Selatan.
Kapolres Halmahera Selatan, AKBP Hendra Gunawan, menyampaikan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendukung program Presiden Prabowo Subianto. “Kami bersama PT. Wanatiara Persada ingin memanfaatkan lahan pekarangan di wilayah ini untuk mendukung swasembada pangan. Salah satu langkah awalnya adalah membangun kebun percontohan di Desa Wayamiga, yang akan didukung penuh oleh PT. Wanatiara Persada,” ujar Hendra.
Hendra juga menambahkan bahwa program ini bertujuan untuk menyosialisasikan kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan, serta berharap bahwa jika proyek percontohan ini sukses, model serupa bisa dikembangkan di desa-desa lain.
Kepala Kantor Perwakilan PT. Wanatiara Persada, Husni, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan di Halmahera Selatan. “Kami telah menandatangani MoU dengan Polres Halmahera Selatan untuk memberikan pendampingan dan bimbingan kepada kelompok tani binaan. Targetnya, mereka bisa mengembangkan sektor pertanian secara lebih profesional dan bersaing dengan kelompok tani dari daerah lain,” kata Husni.
PT. Wanatiara Persada akan mendampingi petani dari tahap awal hingga akhir, mulai dari pembibitan, penyediaan lahan, hingga pemasaran hasil panen. Melalui pendampingan ini, diharapkan petani lokal semakin mandiri dan mampu mengelola usaha tani secara berkelanjutan.
Ketua Kelompok Tani Binaan PT. Wanatiara Persada, Yusran Dais, menyoroti potensi besar sektor pertanian di Halmahera Selatan, yang memiliki pasar dengan daya serap tinggi terhadap produk pertanian. “Permintaan pasar cukup besar, baik di sektor lokal maupun industri. Sebagai contoh, aktivitas perdagangan di Pelabuhan Kopal mencapai 30 hingga 32 kapal per bulan, dengan nilai transaksi mencapai sekitar 24 miliar rupiah,” ungkap Yusran.
Namun, Yusran mengakui bahwa masih ada tantangan dalam rantai pasok yang bergantung pada sumber dari luar daerah. Oleh karena itu, strategi yang lebih efektif diperlukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain.
Yusran juga menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan bagi petani agar lebih produktif dan inovatif. Sejak 2015, program ini telah berjalan dengan berbagai inisiatif, termasuk pengembangan laboratorium dan produksi tanaman bernilai tambah, seperti madu sari kangkung dan madu sari kurma.
Saat ini, dari total 135 petani binaan, sebanyak 17 petani telah mencapai kemandirian penuh. Mereka kini mampu mengelola usaha tani secara mandiri tanpa bergantung pada sistem kelompok.
“Petani sering dianggap sebagai pekerjaan terakhir jika tidak ada pilihan lain. Namun, jika kita memahami bahwa investasi berarti menciptakan pasar, kita bisa mengubah pola pikir masyarakat. Ribuan karyawan di sektor ini membutuhkan bahan pangan, dan inilah peluang besar bagi petani,” pungkasnya.
Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan sektor pertanian di Halmahera Selatan dapat berkembang pesat dan semakin mandiri, serta mampu memenuhi kebutuhan pangan yang ada di pasar lokal dan industri. (Red)
