![]() |
| Thalib Abas, |
Ternate, 12 Agustus 2024 – Konflik mengenai pembayaran gaji dosen di STKIP/ISDIK Ternate mencapai puncaknya ketika Haji Thalib Abas menantang dr. Nia Kurnia, Ketua Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia Maluku Indonesia (YPSDM-MUI), dan Dr. Sidik D. Sidik Siokona untuk bersumpah di Masjid Al-Munawar Ternate. Tantangan ini terkait dengan gaji yang belum dibayarkan kepada para dosen selama 38 bulan, termasuk bulan Agustus 2024.
Thalib Abas, salah satu dosen yang mengaku belum menerima gaji selama periode tersebut, menegaskan bahwa ajakan bersumpah ini didasari oleh nilai-nilai adat dan kepercayaan masyarakat Ternate yang mengutamakan kebenaran. “Adat seatoran kita tidak begitu, salah bilang salah dan benar bilang benar. Ini konsep mengimani yang sebenarnya, istilah orang Ternate ‘loa se banari’,” ungkap Thalib.
Menurut Thalib, isu ini menjadi semakin rumit ketika muncul pandangan bahwa para dosen yang pindah harus melakukannya “dengan baik,” yang berarti meninggalkan hak-hak mereka. “Ini skema yang mengelabui dosen-dosen ISDIK. Kalau dosen ambil itu hak, maka secara agama terhapuslah dosa pimpinan, dokter Nia Kurnia dan Sidik D. Siokona. Kalau tidak, ini masuk penimbunan kekayaan yang dilarang oleh agama, terutama Islam,” tambah Thalib.
Thalib Abas berharap agar dr. Nia Kurnia dan Dr. Sidik D. Sidik Siokona selaku pihak paling bertanggung jawab agar membuka mata hati mereka dan mempertimbangkan dampak dari tindakan mereka. “Ingat, hidup bukan hanya untuk hari ini tapi besok dan seterusnya (akhirat). Dosa dan amal sebesar biji jarah pun dihitung,” ujarnya.
Ia juga mengkritik gaya kepemimpinan yang dirasakannya tidak memperhatikan kesejahteraan dosen. Menurut Thalib, banyak dosen bekerja keras tanpa gaji, sementara pemimpin kampus memiliki investasi dan usaha di berbagai tempat. “Pemimpin itu lihat ke bawah, bukan pergi setahun dan kampus dibangun dengan sistem asal jadi,” kata Thalib.
Di akhir pernyataannya, Thalib mengajak dr. Nia Kurnia dan Haji Sidik untuk bersumpah di Masjid Al-Munawar agar kebenaran bisa terungkap. “Agar alam ma kolano yang menjadi hakim,” tutupnya. (red/tim)

