Akademisi Tetapkan Kawasi sebagai Permukiman Ideal

Editor: Admin

Foto istimewa
Ternate, Maluku Utara – Peluncuran program pembangunan dan rehabilitasi 1.200 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada tahun 2026 menandai komitmen yang semakin kuat dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Program ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mendorong kesejahteraan warga melalui lingkungan tempat tinggal yang aman, sehat, dan layak.

Upaya tersebut juga tercermin dalam berbagai inisiatif pembangunan di tingkat daerah. Salah satunya adalah pengembangan Permukiman Baru Desa Kawasi di Pulau Obi yang digagas Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dengan dukungan Harita Nickel. Kolaborasi ini dinilai sebagai contoh nyata pendekatan terpadu dalam menghadirkan kawasan hunian yang tidak hanya layak, tetapi juga mendukung perkembangan generasi masa depan.

Dosen Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Rais D. Hi. Yusuf, menilai kawasan Permukiman Baru Kawasi telah memenuhi parameter kota modern yang ideal. Ia menyebut kawasan ini telah mengimplementasikan tiga prinsip utama kota inklusif, yakni livable (layak huni), smart (cerdas), dan sustainable (berkelanjutan).

Menurut Rais, kota inklusif harus mampu memberikan akses pelayanan publik dan kesempatan ekonomi yang setara bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang.

“Permukiman Baru Desa Kawasi dirancang dengan pendekatan *human-centered design*, di mana pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas sosial, hingga layanan publik sepenuhnya berorientasi pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia,” ujarnya.

Dari sisi teknis, salah satu inovasi yang menonjol adalah pemanfaatan limbah industri berupa slag nikel sebagai pengganti agregat kasar dalam campuran beton. Material ini berasal dari fasilitas pemurnian Harita Nickel di Pulau Obi dan dinilai sebagai langkah maju menuju konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Rais menjelaskan, slag nikel memiliki karakter partikel yang padat serta kandungan kimia seperti silika dan kapur yang mendukung proses hidrasi semen.

“Hasilnya, beton menjadi lebih kuat, tahan lama, dan mampu mengurangi ketergantungan pada agregat alami,” jelasnya.

Dari aspek tata ruang, kawasan ini juga menerapkan konsep mixed-use and diverse city, yang mengintegrasikan fungsi hunian, area komersial, fasilitas publik, hingga ruang terbuka hijau dalam satu kawasan terpadu.

Lebih lanjut, Rais menambahkan bahwa berdasarkan ketentuan Kementerian Pekerjaan Umum Nomor 2 Tahun 2016, Permukiman Baru Kawasi telah memenuhi kriteria sebagai eco-settlement atau permukiman ekologis.

“Kawasan Kawasi bukan sekadar permukiman biasa, melainkan contoh konkret bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan ekologi dapat diseimbangkan. Ini layak menjadi benchmark dalam perencanaan kawasan permukiman, khususnya di wilayah lingkar industri,” tegasnya.

Penilaian akademisi tersebut sejalan dengan pengalaman warga yang kini telah menghuni kawasan tersebut. Yunince, salah satu warga, mengaku merasakan peningkatan kualitas hidup yang signifikan dibandingkan sebelumnya.

“Kalau hujan tidak becek, kalau panas tidak berdebu. Di sini listrik dan air tersedia 24 jam. Kami juga sudah menggunakan pendingin ruangan (AC),” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Nur Eneng Rahmat (33). Ia merasakan perubahan besar, tidak hanya dari sisi kenyamanan, tetapi juga peluang ekonomi yang semakin terbuka.

“Omzet harian saya bisa mencapai Rp1-2 juta dari usaha sembako dan sayur. Lingkungan di sini lebih tertata, interaksi dengan tetangga lebih intens, dan kegiatan keagamaan juga aktif,” tuturnya. (*)



Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com