Peta Ekonomi Malut Terbalik: Halteng Melesat, Ternate Merosot - SIDEGO: “Ada Pergeseran Struktur Kekuasaan Ekonomi”

Editor: Admin

Grafik 10 Tahun Ungkap Pergeseran Kekuasaan Ekonomi antar Kabupaten/Kota

Grafik kontribusi ekonomi Maluku Utara 2014–2024 yang menunjukkan lonjakan Halmahera Tengah sejak 2021, penurunan Ternate, serta tren naik Halmahera Selatan dan penurunan bertahap Halut dan Haltim.
LABUHA, -
Peta kekuatan ekonomi di Provinsi Maluku Utara mengalami pergeseran besar dalam satu dekade terakhir. Data kontribusi ekonomi kabupaten/kota tahun 2014–2024 menunjukkan perubahan ekstrem, terutama sejak fase pemulihan pasca pandemi Covid-19 pada 2021.

Menurut analisis SIDEGO (Institute for Social Development & Governance), perubahan ini bukan sekadar fluktuasi angka, melainkan pergeseran struktur ekonomi dan kekuasaan wilayah yang akan menentukan arah pembangunan Malut dalam 10 tahun mendatang.

Ternate: Dari Penguasa Ekonomi ke Tren Penurunan

Pada 2014, Ternate berdiri sebagai pusat dominasi ekonomi Malut, disusul Halmahera Utara dan Halmahera Selatan. Sementara Haltim dan Halteng menempati posisi terbawah.

Namun puncak kekuasaan itu mulai goyah. Sejak 2020 dan mencapai titik balik tahun 2021, kontribusi ekonomi Ternate mengalami penurunan signifikan, dari 26,7 persen (2018) menjadi tinggal 15,8 persen pada 2024.

SIDEGO mencatat, ketergantungan Ternate pada sektor jasa, perdagangan, dan aktivitas kota membuatnya rentan terhadap guncangan ekonomi, terutama saat pandemi menghantam struktur ekonomi perkotaan di seluruh Indonesia.

“Ternate kehilangan mesin pertumbuhan baru. Sementara pusat aktifitas pemerintahan kini terus bergeser ke Sofifi. Ini membuat posisi Ternate melemah secara struktural,” tulis analis SIDEGO dalam laporan ringkasnya.

Halteng Melonjak Menjadi Poros Ekonomi Baru

Halmahera Tengah (Halteng) menjadi kejutan terbesar dalam grafik kontribusi ekonomi Malut. Dari hanya 5,83 persen pada 2014, kontribusinya melonjak drastis menjadi 35,48 persen di 2023, menjadikannya daerah dengan porsi ekonomi terbesar di Malut.

Ledakan ini didorong oleh:
  • ekspansi kawasan industri berbasis nikel,
  • pembangunan smelter dan hilirisasi mineral,
  • masuknya investasi skala besar.
SIDEGO melihat fenomena Halteng sebagai contoh jelas sentralisasi ekonomi baru yang bertumpu pada industri berat.

“Halteng menunjukkan bagaimana transformasi tambang–industri mampu mengubah peta ekonomi provinsi hanya dalam lima tahun,” kata SIDEGO.

Halut dan Haltim Bertukar Posisi

Halmahera Utara (Halut), yang dulunya berada di posisi kedua, justru terus merosot selama satu dekade terakhir. Kontribusinya turun dari 15,5 persen (2014) menjadi 7,5 persen (2024).

SIDEGO menilai kejatuhan Halut terjadi akibat:
  • ketergantungan panjang pada tambang emas NHM,
  • lambatnya diversifikasi ekonomi,
  • minimnya investasi baru.
Namun demikian, Halut kini mulai mendorong industri kelapa dan ekonomi inklusif, sebuah strategi yang dianggap lebih merata meski berjalan lambat.

Sementara itu, Haltim menunjukkan tren sebaliknya. Meski masih kecil, kontribusinya bergerak stabil naik. SIDEGO memprediksi Haltim akan segera menyalip Halut dalam beberapa tahun ke depan, terutama dengan intensifikasi sektor tambang dan perkebunan.

Halsel Naik Stabil Berkat Industri Tambang

Halmahera Selatan (Halsel) menjadi salah satu daerah paling konsisten. Kontribusinya meningkat dari 15,09 persen (2014) menjadi 21,97 persen (2024).

Halsel, seperti Halteng dan Haltim, juga memanfaatkan industri tambang sebagai mesin pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

SIDEGO mencatat Halsel sebagai daerah dengan pertumbuhan stabildan konsistensi arah pembangunan ekonomi jangka menengah.

Morotai dan Halbar Alami Stagnasi

Beberapa kabupaten lain justru berjalan di tempat. Morotai, yang pernah dijanjikan sebagai “Bali baru” melalui KEK era SBY, kini melambat setelah program tersebut tidak dilanjutkan pemerintah pusat di era Jokowi.

Halmahera Barat (Halbar) memiliki potensi, tetapi dinilai SIDEGO kurang agresif dalam menggerakkan mesin ekonomi lokal. Halbar relatif tertutupi oleh pesatnya pertumbuhan kabupaten lain di Halmahera.

SIDEGO menilai stagnasi kedua daerah ini sebagai sinyal bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah tidak lagi cukup untuk menopang daya saing ekonomi.

Tidore, Sula, dan Taliabu: Belum Menemukan Mesin Pertumbuhan

Tidore Kepulauan, Sula, dan Pulau Taliabu menghadapi tantangan serupa: terlalu bergantung pada belanja pemerintah daerah dan belum memiliki sektor unggulan baru.

SIDEGO mencatat tiga tantangan utama yang membuat pertumbuhan mereka terhambat:
  • kurangnya sektor industri primer dan sekunder,
  • minimnya arus investasi,
  • ketergantungan pada struktur ekonomi birokratis.
SIDEGO: “Pergeseran Ini Akan Mengubah Arah Politik dan Pembangunan Malut

Dalam kesimpulannya, SIDEGO menyebut bahwa perubahan ekonomi ini tidak hanya berdampak pada angka statistik, tetapi juga pada:
  • dinamika politik,
  • perebutan sentra investasi,
  • strategi pembangunan antar daerah.
“Daerah dengan industri tambang akan memegang kendali ekonomi Malut ke depan. Ternate bukan lagi satu-satunya pusat kekuasaan ekonomi,” SIDEGO juga memperingatkan bahwa ketimpangan antar kabupaten berpotensi melebar bila daerah non-tambang tidak melakukan inovasi ekonomi yang signifikan. (*)


Editor | Idham Hasan

Simak breaking news dan berita pilihan LUGOPOST langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel LUGOPost.id Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


Sumber : LUGOPOST



Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com