Kepala SMP Unggulan, Safrudin Salla, S.Pd, membantah adanya keracunan makanan. Menurutnya, hanya tiga siswa yang mengalami sakit perut dengan kondisi ringan.
“Tu sakit perut tiga anak saja. Kalau kejadian anak sakit perut, itu hal yang sering terjadi. Bisa karena datang bulan, telat makan (maag), dan lain-lain,” kata Safrudin saat dikonfirmasi Lugopost.id Senin, (15/09/2025).
Ia menambahkan, jumlah siswa di sekolah tersebut mencapai 101 orang, dan hampir setiap hari ada siswa yang dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan medis.
“Anak-anak itu ada 101 orang. Hampir tiap pagi kami bawa dorang ke faskes sebagai bentuk pelayanan kesehatan dari sekolah dan asrama. Jadi kalau mau liput soal kesehatan anak, bisa tiap hari,” tambahnya.
Safrudin juga menegaskan, menu makanan yang disediakan pagi itu berupa sayur waluh campur mi laksa dan nugget, dikelola oleh pihak ketiga dengan standar yang rutin diperiksa Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
“Semua standar baik, rutin dicek dari Diknas dan Dinkes. Jadi bukan keracunan, karena kalau keracunan bukan cuma tiga anak yang kena. Itu semua dorang makan menu yang sama,” jelasnya.
Namun, keterangan berbeda disampaikan Wakil Kepala Sekolah, Fitriyeni, S.Pd., yang membenarkan adanya insiden lebih besar. Ia mengatakan, 10 siswa telah dibawa ke Puskesmas Labuha untuk mendapatkan penanganan medis.
“Benar ada insiden itu. Ada 10 siswa yang sudah dibawa ke Puskesmas Labuha. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium karena sampel makanan sudah diambil pihak Puskesmas untuk diuji,” ujar Fitriyeni.
![]() |
| Foto Istimewa |
“Kami berharap ke depan makanan yang disediakan oleh pengelola kantin bisa lebih steril. Ini pelajaran penting bagi kami, karena ini tahun pertama sekolah kami berjalan dengan jumlah siswa sebanyak 101 orang,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak ketiga pengelola kantin maupun Kepala Puskesmas Labuha belum dapat dikonfirmasi meski upaya konfirmasi telah dilakukan oleh Lugopost.(*)
Editor | Idham Hasan.

