![]() |
| Foto istimewa |
Kini, saat ia melepas jabatannya sebagai Asisten III Setda Halmahera Selatan, Soadri tidak sekadar pensiun-ia pamit dengan meninggalkan jejak cinta yang panjang, sunyi, dan penuh makna.
"Pak Soadri itu bukan hanya pejabat, beliau adalah pelayan rakyat sejati. Ia hadir dengan hati, dan pergi dengan nama baik yang tak ternoda," tutur Suparto Wahyudin, jurnalis senior Halsel, dengan mata yang berkaca.
Dari Ujung Desa ke Pusat Pemerintahan
Perjalanan panjang itu dimulai pada 2002, sebagai Camat Bacan Barat. Lalu ke Kayoa, hingga menduduki posisi strategis dari tahun ke tahun. Seluruh jabatan diembannya bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai amanah.
Ia tidak pernah mengejar jabatan, tapi jabatan yang datang mencarinya-karena integritasnya begitu tulus. Di setiap kursi yang ia duduki, ia tanam benih pelayanan, ia siram dengan keikhlasan.
“Kami menyaksikan sendiri-ia datang paling pagi, pulang paling lambat, dan tidak pernah menjadikan rakyat sebagai beban. Justru rakyat adalah alas sujudnya dalam bekerja,” ungkap Rahmat Djubedi staf senior di Kantor Bupati.
Pemekaran: Warisan Abadi
Tak akan pernah kita lupakan tahun 2006–2007. Ia memimpin langsung pemekaran 194 desa dan 21 kecamatan. Dalam sunyi malam, di tengah peta yang kusut, ia menggambar ulang wajah Halsel. Kini, di setiap desa baru, ada tapak tangannya. Di setiap kecamatan baru, ada suaranya yang dulu memperjuangkan.
Ia bukan hanya mengubah peta. Ia mengubah hidup ribuan orang.
"Kalau hari ini rakyat lebih dekat dengan kantor desa, itu karena beliau yang memperpendek jaraknya. Itulah cintanya-senyap tapi nyata,"ujar Haris Ahmad mantan kepala desa Posi-Posi yang dulu ikut dalam tim.
Nasionalisme yang Tak Retoris
Pada 2016, ia dipanggil negara untuk mengikuti pendidikan Lemhannas. Di antara nama-nama besar, ia berdiri sebagai satu dari sedikit birokrat daerah yang dihormati di tingkat nasional. Ia membuktikan: pengabdian di daerah pun bisa menjulang ke Jakarta, asal dijalani dengan tulus.
Purna Tugas, Tapi Tidak Pernah Pergi
Hari ini, Soadri mungkin telah meninggalkan ruang-ruang rapat. Tapi siapa yang bisa menghapus namanya dari catatan sejarah birokrasi Halmahera Selatan?
Namanya ada di papan-papan desa, dalam regulasi yang ia susun, di benak ASN muda yang diam-diam menyebutnya panutan.
"Selamat jalan dalam purna tugas, Pak Soadri. Negeri ini tidak akan pernah lupa. Sebab kau tidak pernah menuntut apa-apa, selain memastikan rakyatmu terlayani,"
Sosok yang Dicintai Wartawan dan Rakyat
Ia dikenal sangat dekat dengan insan pers. Tak pernah alergi kritik, tak pernah menyimpan dendam. Baik media daerah maupun nasional menyapanya dengan sebutan: “Pejabat yang ramah dan tak pernah tinggi hati.”
Bagi para jurnalis, ia bukan hanya narasumber, tetapi kawan dalam perjuangan mengawal kebenaran. Maka wajar bila kini, dari balik meja redaksi hingga pos jaga kantor desa, banyak yang menunduk hening mengiringi langkahnya.
Sebuah Doa
Semoga engkau sehat selalu, Pak Soadri. Semoga langkahmu tetap ringan, meski tanpa seragam. Dan semoga negeri ini suatu hari punya banyak Soadri-Soadri lain, yang mencintai tanah kelahirannya bukan dengan kata-kata, tetapi dengan pengorbanan tanpa pamrih. (Idham)

