![]() |
| Foto istimewa |
Pada 2006, Idris M. Nur meninggalkan Desa Woda, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, mengikuti jejak sang ayah, almarhum Muhammad Nur, menuju Pulau Bacan. Saat itu, ia datang bukan untuk menjadi imam, bukan pula untuk mengajar Al-Qur'an. Ia hanya seorang anak yang mengikuti ayahnya mencari pekerjaan di tanah rantau.
Sang ayah bekerja membangun rumah salah seorang warga di Desa Hidayat, Kecamatan Bacan. Dari pekerjaan itu, langkah Idris kemudian bersentuhan dengan Masjid Al-Kautsar yang saat itu masih membutuhkan perbaikan. Ia ikut dalam pekerjaan rehabilitasi masjid tersebut.
Tak pernah ia bayangkan, tempat yang awalnya hanya menjadi bagian dari perjalanan mencari nafkah itu kelak menjadi bagian penting dari hidupnya.
Di lingkungan masjid itulah, perlahan arah hidup Idris berubah.
Pada tahun yang sama, 2006, ia dipercaya mengumandangkan azan. Suaranya mulai dikenal jamaah. Hari demi hari, panggilan salat yang keluar dari suaranya menjadi bagian dari denyut kehidupan masjid.
Dari sebuah perjalanan mengikuti sang ayah, lahirlah sebuah pengabdian.
Dari seorang perantau, Idris perlahan menemukan rumah.
Dan dari azan, perjalanan panjangnya bersama masjid dan Al-Qur'an pun dimulai.
Dari Muazin Menuju Jalan Ilmu
Pria kelahiran 5 April 1982 itu menjalani amanah sebagai muazin selama bertahun-tahun. Dari 2006 hingga 2018, suara azannya menjadi bagian dari keseharian jamaah di Bacan.
Bagi Idris, mengumandangkan azan bukan sekadar tugas.
Setiap kali takbir dan panggilan salat memenuhi udara, ada pesan yang ingin disampaikan: meninggalkan sejenak kesibukan dunia dan memenuhi panggilan untuk menghadap Allah.
Namun, pengabdiannya tidak berhenti pada suara azan.
Keinginan untuk memperdalam ilmu agama membuat Idris mengambil langkah berikutnya. Pada 3 Oktober 2017, ia mengikuti Program Pendidikan Imam dan Da'i Sahabat Qur'an Angkatan II di Islamic Center Wadi Mubarak, Bogor, Jawa Barat.
Ia berangkat untuk belajar, membawa pengalaman bertahun-tahun sebagai seorang muazin.
Program pendidikan tersebut dijalaninya hingga Januari 2018. Setelah menyelesaikan pendidikan, Idris kembali ke Bacan.
Kepulangannya membawa babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Berdiri di Depan Saf
Pada 2018, Idris dipercaya menjadi Imam Masjid Al-Kautsar, Desa Tomori, Kecamatan Bacan, yang berada di jantung Kota Bacan.
Amanah itu terus dijalaninya hingga sekarang.
Jika sebelumnya ia berdiri di sisi masjid untuk mengumandangkan azan, kini ia berdiri di depan saf untuk memimpin jamaah.
Perjalanan itu seolah mempertemukan kembali Idris dengan masjid yang sejak awal kedatangannya di Bacan telah menjadi bagian dari hidupnya.
Di Masjid Al-Kautsar, sosok Idris semakin dikenal melalui lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi ciri khasnya.
Suaranya lantang, merdu dan penuh penghayatan. Bacaan ayat yang mengalir membuat suasana salat terasa lebih tenang.
Sejumlah jamaah bahkan menyebut karakter suaranya mengingatkan mereka pada Syaikh Dr. Abdurrahman As-Sudais, imam Masjidil Haram. Perbandingan itu muncul dari warna suara dan lantunan ayat yang menurut jamaah terasa khas.
Bagi jamaah, suara Idris bukan sekadar suara seorang imam. Ada ketenangan yang mereka rasakan ketika ayat-ayat Al-Qur'an dilantunkan.
Namun, bagi Idris, lantunan Al-Qur'an bukan tentang bagaimana suara didengar. Yang lebih penting adalah bagaimana ayat-ayat itu tetap hidup dalam hati dan kehidupan orang yang mendengarnya.
Dari Mihrab ke Ruang Belajar Anak-anak
Pengabdian Idris ternyata tidak berhenti di mihrab.
Di luar tugasnya sebagai imam, ia juga mengabdikan diri sebagai Guru Ngaji di TPQ Al-Furqan.
Di sana, perannya mengambil bentuk yang berbeda.
Jika di Masjid Al-Kautsar ia berdiri di depan saf dan memimpin jamaah, di TPQ Al-Furqan ia duduk bersama anak-anak, membimbing mereka mengenal huruf demi huruf Al-Qur'an.
Dengan sabar, ia mengajarkan cara membaca, mengenalkan makhraj dan membimbing anak-anak agar semakin dekat dengan kitab suci.
Satu huruf yang diajarkan hari ini mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi seorang anak, satu huruf itu bisa menjadi langkah pertama menuju kecintaan kepada Al-Qur'an.
Dari tangan seorang guru ngaji, generasi kecil itu belajar. Dari generasi itulah kelak masjid-masjid diharapkan kembali dipenuhi suara bacaan Al-Qur'an.
Karena itu, bagi Idris, mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia adalah bagian dari upaya menanamkan sesuatu yang diharapkan terus tumbuh jauh setelah proses belajar itu selesai.
Tanah Rantau yang Menjadi Rumah
Bersama istri dan tiga anaknya, Idris memilih menetap di Desa Tomori.
Bacan yang dahulu hanya menjadi tanah rantau perlahan berubah menjadi rumah.
Di tempat itulah ia membangun keluarga sekaligus melanjutkan pengabdian.
Perjalanan Idris seakan mengajarkan bahwa hijrah tidak selalu hanya tentang meninggalkan sebuah tempat.
Kadang, hijrah adalah perjalanan untuk menemukan tempat di mana seseorang bisa memberikan manfaat.
Ia datang ke Bacan sebagai seorang perantau.
Mengikuti sang ayah untuk mencari pekerjaan.
Bersentuhan dengan masjid.
Memulai pengabdian sebagai muazin.
Kemudian terdorong untuk memperdalam ilmu.
Berangkat jauh ke Bogor untuk belajar.
Kembali ke Bacan sebagai seorang imam.
Lalu mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak.
Hampir dua dekade berlalu sejak langkah pertamanya di Bacan. Waktu telah mengubah perannya, tetapi satu hal tetap sama: kecintaannya terhadap masjid dan Al-Qur'an.
Pengabdian yang Terus Tumbuh
Kini, setiap kali suara Idris terdengar dari Masjid Al-Kautsar, jamaah mungkin hanya mendengar lantunan ayat yang merdu.
Namun di balik suara itu ada perjalanan panjang seorang lelaki.
Ada seorang anak dari Woda yang mengikuti ayahnya meninggalkan tanah kelahiran.
Ada seorang perantau yang menemukan rumah di Tomori.
Ada seorang muazin yang bertahun-tahun mengumandangkan azan.
Ada seorang pencari ilmu yang pergi jauh ke Bogor untuk belajar.
Ada seorang imam yang kemudian dipercaya berdiri di depan saf.
Dan ada seorang guru ngaji yang setiap hari menitipkan huruf-huruf Al-Qur'an kepada anak-anak.
Semua itu menjadi bagian dari satu perjalanan: mengabdi.
Mungkin suatu hari nanti, anak-anak yang pernah belajar membaca Al-Qur'an dari Idris akan tumbuh dewasa.
Mereka akan berdiri di saf yang sama, mengisi masjid, mengajarkan Al-Qur'an kepada generasi berikutnya, bahkan mungkin suatu ketika menggantikan para pendahulunya untuk memimpin salat.
Jika hari itu tiba, mungkin nama Idris tidak selalu disebut.
Namun huruf-huruf Al-Qur'an yang pernah ia ajarkan akan terus hidup melalui mereka.
Sebab pengabdian yang paling panjang bukan selalu yang paling banyak diceritakan, melainkan pengabdian yang terus tumbuh setelah seseorang selesai melakukannya.
Dari Woda ia berangkat.
Di Bacan ia menetap.
Dari azan ia memulai pengabdian.
Di mihrab ia memimpin.
Dan melalui Al-Qur'an, ia menitipkan kebaikan kepada generasi berikutnya.
Sebuah perjalanan yang bermula dari langkah seorang anak mengikuti ayahnya ke tanah rantau, lalu tumbuh menjadi perjalanan hidup bersama masjid dan Al-Qur'an. (*)


