Merawat Pancasila dari Kearifan Ternate

Editor: Admin
foto istimewa 

Oleh: RINO, M.Pd.

Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026 perlu menjadi kesempatan untuk menilai bagaimana nilai kebangsaan diwariskan kepada generasi muda. Bagi Ternate, pekerjaan ini dapat dimulai dari bahasa, tradisi, dan pengalaman hidup masyarakatnya. Kearifan lokal menyediakan cara untuk mendekatkan Pancasila kepada anak-anak melalui sesuatu yang mereka kenal dan alami.

Keberhasilan pendidikan Pancasila terlihat dalam keseharian. Anak yang menghormati teman berbeda agama, berani mengakui kesalahan, dan mau membantu orang lain sedang mengamalkan nilai kebangsaan. Karena itu, perhatian kita perlu diarahkan pada hubungan antara pelajaran di kelas dan perilaku di rumah, sekolah, serta ruang digital.

Ternate memiliki khazanah budaya yang dapat memperkaya pendidikan tersebut. Pengungkapan nilai Pancasila melalui bahasa Ternate membuka ruang percakapan antara generasi tua dan generasi muda. Rumusan resmi Pancasila tetap menjadi acuan, sementara bahasa daerah membantu menjelaskan maknanya melalui pengalaman masyarakat setempat.

Ungkapan Jou Giki Amoi dapat menjadi pengantar untuk membicarakan nilai ketuhanan. Kajian mengenai falsafah Jou se Ngofangare menjelaskan hubungan istilah Jou dengan Tuhan dan Giki Amoi dengan Tuhan Yang Satu. Dari pemahaman tersebut, pendidikan dapat mengembangkan pembicaraan tentang tanggung jawab moral manusia.

Tanggung jawab itu perlu hadir dalam tindakan yang sederhana: berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, dan menghormati ibadah orang lain. Guru serta orang tua mempunyai peran besar melalui keteladanan. Anak memperoleh pelajaran yang kuat ketika nasihat tentang kejujuran disertai perilaku jujur dari orang dewasa di sekitarnya.

Nilai kemanusiaan dapat didekatkan melalui bobaso se rasai. Dalam penjelasan Kementerian Agama Kota Ternate, nilai ini berkaitan dengan kasih sayang, menjaga perasaan, saling menghormati, dan memelihara ketenteraman dalam kehidupan bersama. Bagi pendidikan, nilai tersebut menyediakan pijakan untuk membangun empati.

Empati harus dilatih melalui pengalaman. Sekolah dapat membiasakan siswa mendengarkan teman, menghentikan ejekan, dan membantu mereka yang mengalami kesulitan. Ketika terjadi perundungan, korban perlu memperoleh perlindungan dan penanganan yang jelas. Pelaku juga perlu memahami dampak tindakannya serta bertanggung jawab memperbaiki perilaku.

Bobaso se rasai mempunyai relevansi dalam pergaulan digital. Sebelum mengunggah komentar atau membagikan foto teman, anak perlu mempertimbangkan perasaan dan hak orang lain. Kebiasaan meminta izin, memeriksa informasi, dan menahan diri dari penghinaan merupakan bentuk pengamalan kemanusiaan yang dapat diajarkan sejak dini.

Fo marimoi Indonesia dapat digunakan untuk mengajak generasi muda membicarakan persatuan. Semangat kebersamaan juga tercermin dalam ungkapan marimoi ngone futuru, yang dimaknai sebagai bersatu kita teguh. Nilai budaya ini telah menjadi bahan kajian mengenai pendidikan cinta tanah air di SMA Kota Ternate.

Persatuan dapat tumbuh melalui kerja bersama yang memberi tempat kepada setiap orang. Dalam tugas kelompok, siswa perlu belajar membagi peran secara adil dan menghargai kontribusi temannya. Kegiatan membersihkan lingkungan atau mendokumentasikan sejarah kampung dapat mempertemukan anak-anak dengan latar belakang berbeda dalam tujuan yang sama.

Pengenalan budaya Ternate juga perlu berjalan bersama penghormatan terhadap budaya lain. Anak yang mengenal bahasa dan sejarah daerahnya dapat belajar menjelaskan identitasnya tanpa merendahkan identitas teman. Dengan cara itu, kebanggaan lokal ikut memperkuat rasa memiliki terhadap Indonesia.

Dalam pembicaraan tentang sila kerakyatan, ungkapan bala kusu se kano-kano mengarahkan perhatian pada masyarakat. Kajian tentang kebudayaan Kesultanan Ternate menggunakan ungkapan tersebut untuk menyebut rakyat. Pendidikan dapat menjadikannya pintu masuk untuk membahas pentingnya mendengar suara warga dan mempertimbangkan kepentingan bersama.

Di sekolah, kebiasaan itu dapat dilatih ketika siswa menyusun kesepakatan kelas, memilih pengurus, atau menyelesaikan perselisihan. Guru perlu memberi kesempatan berbicara secara seimbang, termasuk kepada siswa yang pendiam. Musyawarah memperoleh makna ketika pendapat benar-benar dipertimbangkan dan keputusan dijelaskan dengan alasan yang dapat dipahami.

Nilai keadilan dan kebenaran dapat dibicarakan melalui loa se banar, yang dalam kajian nilai lokal Ternate dikaitkan dengan tindakan yang benar. Pemaknaan ini dapat dikembangkan menjadi pendidikan integritas: mengerjakan tugas secara jujur, menghargai hasil kerja orang lain, serta berani memperbaiki kekeliruan.

Keadilan juga menyangkut kesempatan belajar. Siswa datang dengan dukungan keluarga, kemampuan, dan akses teknologi yang beragam. Sekolah perlu menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan mereka. Tugas yang memerlukan perangkat digital, misalnya, harus disertai pilihan yang memungkinkan siswa dengan akses terbatas tetap berpartisipasi.

Dalam penggunaan kecerdasan artifisial, integritas berarti mampu menjelaskan proses belajar dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan. Siswa dapat menggunakan teknologi untuk mencari gagasan atau memahami materi, lalu memeriksa sumber dan mengembangkan jawabannya sendiri. Guru perlu memberi tugas yang mengundang penalaran serta percakapan tentang proses pengerjaan.

Penekanan pada pengalaman nyata juga terlihat dalam keterangan resmi Kemendikdasmen mengenai penguatan pendidikan Pancasila pada September 2026. Pengamalan nilai melalui budaya sekolah, pembiasaan, dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari pembentukan karakter. Bagi Ternate, pendekatan tersebut membuka peluang untuk menghubungkan pendidikan kebangsaan dengan lingkungan budaya siswa.

Peluang itu membutuhkan kerja yang terarah. Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan ungkapan lokal beserta contoh penerapannya. Pelajaran bahasa dapat digunakan untuk mewawancarai penutur Ternate, sementara pelajaran sejarah dapat mengajak siswa menelusuri pengalaman masyarakat di kampungnya. Hasilnya bisa berupa tulisan, rekaman percakapan, atau dokumentasi yang dibahas kembali di kelas.

Pelibatan penutur bahasa, tokoh adat, orang tua, dan pegiat budaya akan membantu menjaga ketepatan makna. Sekolah sebaiknya memberi ruang kepada mereka untuk menjelaskan konteks penggunaan sebuah ungkapan. Dengan demikian, siswa memahami hubungan antara bahasa, pengalaman sosial, dan nilai yang hendak diwariskan.

Keberhasilannya perlu dinilai dari perubahan yang dapat diamati. Apakah siswa lebih berani mengakui kesalahan? Apakah teman yang berbeda diterima dalam kelompok? Apakah pendapat didengarkan dengan hormat? Pertanyaan semacam ini membantu sekolah mengarahkan pendidikan karakter pada perilaku sehari-hari.

Keteladanan orang dewasa tetap menentukan. Ajakan bermusyawarah harus disertai kesediaan guru mendengar. Pelajaran keadilan perlu tercermin dalam pemberian kesempatan dan penanganan masalah. Orang tua pun dapat meneruskan pembiasaan tersebut melalui percakapan dan tanggung jawab sederhana di rumah.

Hari Kesaktian Pancasila memberi alasan untuk memperkuat pekerjaan itu. Dari Ternate, nilai kebangsaan dapat diwariskan melalui bahasa yang akrab, hubungan sosial yang penuh penghormatan, serta pendidikan yang memberi ruang untuk berpikir dan bertindak. Kearifan lokal akan berarti bagi masa depan ketika membantu anak menghadapi persoalan kehidupannya.

Merawat Pancasila dari kearifan Ternate berarti memastikan nilai yang kita banggakan hadir dalam cara kita memperlakukan sesama. Di situlah generasi muda memperoleh bekal untuk menjaga akar budayanya, menggunakan teknologi dengan tanggung jawab, dan mengambil bagian dalam kehidupan Indonesia yang majemuk.

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com